"(Yaitu)
orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk
atau
dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang
penciptaan
langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami,
tiadalah
Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau,
maka
peliharalah kami dari siksa neraka.
(QS.
Aali ‘Imraan, 3:191)
SEKELUMIT TENTANG PENGARANG
Dengan
nama pena HARUN YAHYA, pengarang telah menulis banyak buku-buku yang
berhubungan dengan masalah politik dan agama. Sejumlah besar karya
monumentalnya berbicara tentang cara pandang dan ideologi materialistik serta
pengaruhnya terhadap sejarah dan perpolitikan dunia. (Nama pena tersebut berasal
dari dua nama Nabi: Harun [Aaron] dan Yahya [John] untuk mengenang dua orang
Nabi yang berjuang melawan kekufuran).
Buku-buku
karya pengarang: Yahudi dan Freemasonri, Freemasonri dan Kapitalisme,
Freemasonri: Agama Syaitan, Anak-Anak Jehovah dan Freemason, Tata Masonik Baru,
'Tangan Rahasia' di Bosnia, Kebohongan Holocaust, Di Balik Tirai Terorisme,
Kartu-Kurdi Israel, Strategi Nasional Turki, Moral Qur'ani: Solusi, Permusuhan
Darwin Terhadap Bangsa Turki, Kebohongan Teori Evolusi, Bangsa-Bangsa Yang Diadzab,
Zaman Keemasan, Keagungan Warna Ciptaan Allah, Hakikat Kehidupan Dunia,
Pengakuan Kaum Evolusionis, Kesalahpahaman Kaum Evolusionis, Al-Qur'an Menuntun
Kepada Ilmu Pengetahuan, Desain Pada Alam, Perilaku Pengorbanan Diri dan
Kecerdasan Pada Makhluk Hidup, Keabadian Telah Berlangsung, Anakku Darwin Telah
Berbohong!, Berakhirnya Darwinisme, Penciptaan Alam Semesta, Jangan
Berpura-Pura Tidak Tahu, Keabadian dan Hakikat Takdir, Keajaiban Atom,
Keajaiban Sel, Keajaiban Sistem Kekebalan, Keajaiban Mata, Keajaiban Penciptaan
Tumbuhan, Keajaiban Laba-Laba, Keajaiban Nyamuk, Keajaiban Lebah, Keajaiban
Semut.
Terdapat
pula karya-karyanya dalam bentuk booklet: Misteri Atom, Keruntuhan Teori
Evolusi: Fakta Penciptaan, Keruntuhan Materialisme, Berakhirnya Materialisme,
Kesalahan Kaum Evolusionis 1, Kesalahan Kaum Evolusionis 2, Mikrobiologi
Meruntuhkan Teori Evolusi, Fakta Penciptaan, 20 Pertanyaan Yang Meruntuhkan
Teori Evolusi, Kebohongan Terbesar Dalam Sejarah Biologi: Darwinisme.
Karya-karya
pengarang yang berhubungan dengan Al-Qur'an: Pernahkah Anda Berpikir Tentang
Kebenaran?, Mengabdi Hanya Kepada Allah, Meninggalkan Masyarakat Jahiliyyah,
Surga, Teori Evolusi, Nilai Akhlaq Dalam Al-Qur'an, Ilmu Al-Qur'an, Index
Al-Qur'an, Hijrah di Jalan Allah, Sifat Munafiq Dalam Al-Qur'an, Rahasia Orang
Munafiq, Nama-Nama Allah Yang Agung, Berdakwah dan Berdebat Dalam Al-Qur'an,
Konsep-Konsep Dasar Dalam Al-Qur'an, Jawaban-Jawaban Al-Qur'an, Kematian,
Kebangkitan dan Neraka, Perjuangan Para Rasul, Syaitan: Musuh Nyata Manusia,
Agama Berhala, Agama Kaum Jahiliyyah, Kesombongan Syaitan, Doa Dalam Al-Qur'an,
Hari Kebangkitan, Jangan Pernah Lupa, Penilaian Al-Qur'an Yang Terabaikan,
Karakter Manusia Dalam Masyarakat Jahiliyyah, Pentingnya Sabar Dalam Al-Qur'an,
Pengetahuan Dasar Dari Al-Qur'an, Memahami Iman dengan Mudah 1-2-3, Pemikiran
Dangkal Tentang Kekufuran, Iman Yang Sempurna, Sebelum Menyesal, Perkataan Para
Rasul, Kasih Sayang Orang Mukmin, Takut Kepada Allah, Mimpi Buruk Kekafiran,
abi Isa Akan Kembali, Al-Qur'an Memberi Keindahan Pada Kehidupan, Kumpulan
Keindahan Ciptaan Allah 1-2-3-4.
Dalam
semua buku karya pengarang, bahasan-bahasan yang berhubungan dengan keimanan
diuraikan berdasarkan petunjuk ayat-ayat Al-Qur'an, masyarakat diajak untuk
mempelajari kalam Allah dan menjadikannya sebagai pedoman hidup. Semua pokok
bahasan yang berhubungan dengan ayat-ayat Allah diuraikan dengan cara yang
demikian sehingga tidak menyisakan ruang keragu-raguan atau tanda tanya dalam
pikiran para pembaca. Penyampaian pesan secara ikhlas, sederhana dan fasih yang
digunakan memudahkan setiap orang dari segala umur dan lapisan sosial untuk
dapat memahami buku-bukunya. Cara penjelasan yang efektif dan lugas membuat
buku-buku tersebut dapat dibaca dalam waktu yang relatif singkat. Bahkan mereka
yang sangat anti terhadap hal-hal yang berbau agama mampu terpengaruhi oleh
fakta-fakta yang dipaparkan dalam buku-buku tersebut serta tidak mampu menolak
kebenaran isinya.
Buku
ini dan juga buku-buku lain karya pengarang dapat dibaca secara individu
ataupun dipelajari dalam kelompok sebagai bahan diskusi. Pembacaan buku-buku
tersebut dalam sebuah kelompok pembaca yang memiliki keinginan untuk mengambil
manfaat darinya akan sangat baik, dalam arti bahwa para pembaca dapat menyampaikan
pemahaman dan pengalaman mereka satu sama lain.
Juga,
peran serta dalam penyampaian dan pembacaan buku-buku ini, yang ditulis hanya
karena mengharap ridha Allah, adalah suatu amal kebaikan terhadap Islam. Semua
buku-buku karya pengarang sangat berpengaruh kepada para pembaca. Oleh sebab
itu, mereka yang ingin mendakwahkan Islam kepada orang lain, salah satu cara
yang efektif adalah mengajak mereka untuk membaca buku-buku tersebut.
Pernahkah
anda memikirkan bahwa anda tidak ada sebelum dilahirkan ke dunia ini; dan anda
telah diciptakan dari sebuah ketiadaan?
Pernahkan
anda berpikir bagaimana bunga yang setiap hari anda lihat di ruang tamu, yang
tumbuh dari tanah yang hitam, ternyata memiliki bau yang harum serta
berwarna-warni?
Pernahkan
anda memikirkan seekor nyamuk, yang sangat mengganggu ketika terbang mengitari
anda, mengepakkan sayapnya dengan kecepatan yang sedemikian tinggi sehingga
kita tidak mampu melihatnya?
Pernahkan
anda berpikir bahwa lapisan luar dari buah-buahan seperti pisang, semangka,
melon dan jeruk berfungsi sebagai pembungkus yang sangat berkualitas, yang
membungkus daging buahnya sedemikian rupa sehingga rasa dan keharumannya tetap
terjaga?
Pernahkan
anda berpikir bahwa gempa bumi mungkin saja datang secara tiba-tiba ketika anda
sedang tidur, yang menghancur luluhkan rumah, kantor dan kota anda hingga rata
dengan tanah sehingga dalam tempo beberapa detik saja anda pun kehilangan
segala sesuatu yang anda miliki di dunia ini?
Pernahkan
anda berpikir bahwa kehidupan anda berlalu dengan sangat cepat, anda pun
menjadi semakin tua dan lemah, dan lambat laun kehilangan ketampanan atau
kecantikan, kesehatan dan kekuatan anda?
Pernahkan
anda memikirkan bahwa suatu hari nanti, malaikat maut yang diutus oleh Allah
akan datang menjemput untuk membawa anda meninggalkan dunia ini?
Jika
demikian, pernahkan anda berpikir mengapa manusia demikian terbelenggu oleh
kehidupan dunia yang sebentar lagi akan mereka tinggalkan dan yang seharusnya
mereka jadikan sebagai tempat untuk bekerja keras dalam meraih kebahagiaan
hidup di akhirat?
Manusia
adalah makhluk yang dilengkapi Allah sarana berpikir. Namun sayang, kebanyakan
mereka tidak menggunakan sarana yang teramat penting ini sebagaimana mestinya.
Bahkan pada kenyataannya sebagian manusia hampir tidak pernah berpikir.
Sebenarnya,
setiap orang memiliki tingkat kemampuan berpikir yang seringkali ia sendiri
tidak menyadarinya. Ketika mulai menggunakan kemampuan berpikir tersebut,
fakta-fakta yang sampai sekarang tidak mampu diketahuinya, lambat-laun mulai
terbuka di hadapannya. Semakin dalam ia berpikir, semakin bertambahlah
kemampuan berpikirnya dan hal ini mungkin sekali berlaku bagi setiap orang.
Harus disadari bahwa tiap orang mempunyai kebutuhan untuk berpikir serta
menggunakan akalnya semaksimal mungkin.
Buku
ini ditulis dengan tujuan mengajak manusia "berpikir sebagaimana
mestinya" dan mengarahkan mereka untuk "berpikir sebagaimana
mestinya". Seseorang yang tidak berpikir berada sangat jauh dari kebenaran
dan menjalani sebuah kehidupan yang penuh kepalsuan dan kesesatan. Akibatnya ia
tidak akan mengetahui tujuan penciptaan alam, dan arti keberadaan dirinya di
dunia. Padahal, Allah telah menciptakan segala sesuatu untuk sebuah tujuan sebagaimana
dinyatakan dalam Al-Qur'an:
"Dan
Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan
bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan haq, tetapi
kebanyakan mereka tidak mengetahui." (QS. Ad-Dukhaan, 44: 38-39)
"Maka
apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main
(saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?" (QS.
Al-Mu’minuun, 23:115)
Oleh
karena itu, yang paling pertama kali wajib untuk dipikirkan secara mendalam
oleh setiap orang ialah tujuan dari penciptaan dirinya, baru kemudian segala
sesuatu yang ia lihat di alam sekitar serta segala kejadian atau peristiwa yang
ia jumpai selama hidupnya. Manusia yang tidak memikirkan hal ini, hanya akan
mengetahui kenyataan-kenyataan tersebut setelah ia mati. Yakni ketika ia
mempertanggung jawabkan segala amal perbuatannya di hadapan Allah; namun sayang
sudah terlambat. Allah berfirman dalam Al-Qur'an bahwa pada hari penghisaban,
tiap manusia akan berpikir dan menyaksikan kebenaran atau kenyataan tersebut:
"Dan
pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia
akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan,
"Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk
hidupku ini." (QS. Al-Fajr, 89:23-24)
Padahal
Allah telah memberikan kita kesempatan hidup di dunia. Berpikir atau merenung
untuk kemudian mengambil kesimpulan atau pelajaran-pelajaran dari apa yang kita
renungkan untuk memahami kebenaran, akan menghasilkan sesuatu yang bernilai
bagi kehidupan di akhirat kelak. Dengan alasan inilah, Allah mewajibkan seluruh
manusia, melalui para Nabi dan Kitab-kitab-Nya, untuk memikirkan dan
merenungkan penciptaan diri mereka sendiri dan jagad raya:
"Dan
mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka?, Allah tidak
menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan
tujuan yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di
antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya." (QS. Ar-Ruum, 30: 8)
Berpikir Secara
Mendalam
Banyak yang beranggapan bahwa untuk "berpikir secara mendalam",
seseorang perlu memegang kepala dengan kedua telapak tangannya, dan menyendiri
di sebuah ruangan yang sunyi, jauh dari keramaian dan segala urusan yang ada.
Sungguh, mereka telah menganggap "berpikir secara mendalam" sebagai
sesuatu yang memberatkan dan menyusahkan. Mereka berkesimpulan bahwa pekerjaan
ini hanyalah untuk kalangan "filosof".
Padahal, sebagaimana telah disebutkan dalam pendahuluan, Allah mewajibkan
manusia untuk berpikir secara mendalam atau merenung. Allah berfirman bahwa
Al-Qur'an diturunkan kepada manusia untuk dipikirkan atau direnungkan:
"Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh dengan berkah
supaya mereka memperhatikan (merenungkan) ayat-ayatnya dan supaya mendapat
pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran" (QS. Shaad, 38: 29).
Yang ditekankan di sini adalah bahwa setiap orang hendaknya berusaha secara
ikhlas sekuat tenaga dalam meningkatkan kemampuan dan kedalaman berpikir.
Sebaliknya, orang-orang yang tidak mau berusaha untuk berpikir mendalam
akan terus-menerus hidup dalam kelalaian yang sangat. Kata kelalaian mengandung
arti "ketidakpedulian (tetapi bukan melupakan), meninggalkan, dalam
kekeliruan, tidak menghiraukan, dalam kecerobohan". Kelalaian manusia yang
tidak berpikir adalah akibat melupakan atau secara sengaja tidak menghiraukan
tujuan penciptaan diri mereka serta kebenaran ajaran agama. Ini adalah jalan
hidup yang sangat berbahaya yang dapat menghantarkan seseorang ke neraka.
Berkenaan dengan hal tersebut, Allah memperingatkan manusia agar tidak termasuk
dalam golongan orang-orang yang lalai:
"Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan
rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan
janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai." (QS. Al-A’raaf, 7: 205)
"Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, (yaitu) ketika
segala perkara telah diputus. Dan mereka dalam kelalaian dan mereka tidak
(pula) beriman." (QS. Maryam, 19: 39)
Dalam Al-Qur'an, Allah menyebutkan tentang mereka yang berpikir secara
sadar, kemudian merenung dan pada akhirnya sampai kepada kebenaran yang
menjadikan mereka takut kepada Allah. Sebaliknya, Allah juga menyatakan bahwa
orang-orang yang mengikuti para pendahulu mereka secara taklid buta tanpa
berpikir, ataupun hanya sekedar mengikuti kebiasaan yang ada, berada dalam
kekeliruan. Ketika ditanya, para pengekor yang tidak mau berpikir tersebut akan
menjawab bahwa mereka adalah orang-orang yang menjalankan agama dan beriman
kepada Allah. Tetapi karena tidak berpikir, mereka sekedar melakukan ibadah dan
aktifitas hidup tanpa disertai rasa takut kepada Allah. Mentalitas golongan ini
sebagaimana digambarkan dalam Al-Qur'an:
Katakanlah: "Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya,
jika kamu mengetahui?"
Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "Maka
apakah kamu tidak ingat?"
Katakanlah: "Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya
'Arsy yang besar?"
Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "Maka
apakah kamu tidak bertakwa?"
Katakanlah: "Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala
sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari
(adzab)-Nya, jika kamu mengetahui?"
Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "(Kalau
demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu (disihir)?"
"Sebenarnya Kami telah membawa kebenaran kepada mereka, dan
sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta." (QS.
Al-Mu’minuun, 23: 84-90)
Berpikir dapat membebaskan seseorang daribelenggu sihir
Dalam ayat di atas, Allah bertanya kepada manusia, "…maka dari jalan
manakah kamu ditipu (disihir)?. Kata disihir atau tersihir di sini mempunyai
makna kelumpuhan mental atau akal yang menguasai manusia secara menyeluruh.
Akal yang tidak digunakan untuk berpikir berarti bahwa akal tersebut telah
lumpuh, penglihatan menjadi kabur, berperilaku sebagaimana seseorang yang tidak
melihat kenyataan di depan matanya, sarana yang dimiliki untuk membedakan yang
benar dari yang salah menjadi lemah. Ia tidak mampu memahami sebuah kebenaran
yang sederhana sekalipun. Ia tidak dapat membangkitkan kesadarannya untuk
memahami peristiwa-peristiwa luar biasa yang terjadi di sekitarnya. Ia
tidak mampu melihat bagian-bagian rumit dari peristiwa-peristiwa yang ada. Apa
yang menyebabkan masyarakat secara keseluruhan tenggelam dalam kehidupan yang
melalaikan selama ribuan tahun serta menjauhkan diri dari berpikir sehingga
seolah-olah telah menjadi sebuah tradisi adalah kelumpuhan akal ini.
Pengaruh
sihir yang bersifat kolektif tersebut dapat dikiaskan sebagaimana berikut:
Dibawah
permukaan bumi terdapat sebuah lapisan mendidih yang dinamakan magma, padahal
kerak bumi sangatlah tipis. Tebal lapisan kerak bumi dibandingkan keseluruhan
bumi adalah sebagaimana tebal kulit apel dibandingkan buah apel itu sendiri.
Ini berarti bahwa magma yang membara tersebut demikian dekatnya dengan kita,
dibawah telapak kaki kita!
Setiap
orang mengetahui bahwa di bawah permukaan bumi ada lapisan yang mendidih dengan
suhu yang sangat panas, tetapi manusia tidak terlalu memikirkannya. Hal ini
dikarenakan para orang tua, sanak saudara, kerabat, teman, tetangga, penulis
artikel di koran yang mereka baca, produser acara-acara TV dan professor mereka
di universitas tidak juga memikirkannya.
Ijinkanlah kami mengajak anda berpikir sebentar tentang masalah ini.
Anggaplah seseorang yang telah kehilangan ingatan berusaha untuk mengenal
sekelilingnya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada setiap orang di
sekitarnya. Pertama-tama ia menanyakan tempat dimana ia berada. Apakah
kira-kira yang akan muncul di benaknya apabila diberitahukan bahwa di bawah
tempat dia berdiri terdapat sebuah bola api mendidih yang dapat memancar dan
berhamburan dari permukaan bumi pada saat terjadi gempa yang hebat atau gunung
meletus? Mari kita berbicara lebih jauh dan anggaplah orang ini telah
diberitahu bahwa bumi tempat ia berada hanyalah sebuah planet kecil yang
mengapung dalam ruang yang sangat luas, gelap dan hampa yang disebut ruang
angkasa. Ruang angkasa ini memiliki potensi bahaya yang lebih besar
dibandingkan materi bumi tersebut, misalnya: meteor-meteor dengan berat
berton-ton yang bergerak dengan leluasa di dalamnya. Bukan tidak mungkin
meteor-meteor tersebut bergerak ke arah bumi dan kemudian menabraknya.
Mustahil orang ini mampu untuk tidak berpikir sedetikpun ketika berada di
tempat yang penuh dengan bahaya yang setiap saat mengancam jiwanya. Ia pun akan
berpikir pula bagaimana mungkin manusia dapat hidup dalam sebuah planet yang
sebenarnya senantiasa berada di ujung tanduk, sangat rapuh dan membahayakan
nyawanya. Ia lalu sadar bahwa kondisi ini hanya terjadi karena adanya sebuah
sistim yang sempurna tanpa cacat sedikitpun. Kendatipun bumi, tempat ia
tinggal, memiliki bahaya yang luar biasa besarnya, namun padanya terdapat
sistim keseimbangan yang sangat akurat yang mampu mencegah bahaya tersebut agar
tidak menimpa manusia. Seseorang yang menyadari hal ini, memahami bahwa bumi
dan segala makhluk di atasnya dapat melangsungkan kehidupan dengan selamat
hanya dengan kehendak Allah, disebabkan oleh adanya keseimbangan alam yang
sempurna dan tanpa cacat yang diciptakan-Nya.
Contoh di atas hanyalah satu diantara jutaan, atau bahkan trilyunan
contoh-contoh yang hendaknya direnungkan oleh manusia. Di bawah ini satu lagi
contoh yang mudah-mudahan membantu dalam memahami bagaimana "kondisi
lalai" dapat mempengaruhi sarana berpikir manusia dan melumpuhkan
kemampuan akalnya.
Manusia mengetahui bahwa kehidupan di dunia berlalu dan berakhir sangat
cepat. Anehnya, masih saja mereka bertingkah laku seolah-olah mereka tidak akan
pernah meninggalkan dunia. Mereka melakukan pekerjaan seakan-akan di dunia
tidak ada kematian. Sungguh, ini adalah sebuah bentuk sihir atau mantra yang
terwariskan secara turun-temurun. Keadaan ini berpengaruh sedemikian besarnya
sehingga ketika ada yang berbicara tentang kematian, orang-orang dengan segera
menghentikan topik tersebut karena takut kehilangan sihir yang selama ini
membelenggu mereka dan tidak berani menghadapi kenyataan tersebut. Orang yang
mengabiskan seluruh hidupnya untuk membeli rumah yang bagus, penginapan musim
panas, mobil dan kemudian menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah yang bagus,
tidak ingin berpikir bahwa pada suatu hari mereka akan mati dan tidak akan
dapat membawa mobil, rumah, ataupun anak-anak beserta mereka. Akibatnya,
daripada melakukan sesuatu untuk kehidupan yang hakiki setelah mati, mereka
memilih untuk tidak berpikir tentang kematian.
Namun, cepat atau lambat setiap manusia pasti akan menemui ajalnya. Setelah
itu, percaya atau tidak, setiap orang akan memulai sebuah kehidupan yang kekal.
Apakah kehidupannya yang abadi tersebut berlangsung di surga atau di neraka,
tergantung dari amal perbuatan selama hidupnya yang singkat di dunia. Karena
hal ini adalah sebuah kebenaran yang pasti akan terjadi, maka satu-satunya
alasan mengapa manusia bertingkah laku seolah-olah mati itu tidak ada adalah
sihir yang telah menutup atau membelenggu mereka akibat tidak berpikir dan
merenung.
Orang-orang yang tidak dapat membebaskan diri mereka dari sihir dengan cara
berpikir, yang mengakibatkan mereka berada dalam kelalaian, akan melihat
kebenaran dengan mata kepala mereka sendiri setelah mereka mati, sebagaimana
yang diberitakan Allah kepada kita dalam Al-Qur'an :
"Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka
Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu
pada hari itu amat tajam." (QS. Qaaf, 50: 22)
Dalam ayat di atas penglihatan seseorang menjadi kabur akibat tidak mau
berpikir, akan tetapi penglihatannya menjadi tajam setelah ia dibangkitkan dari
alam kubur dan ketika mempertanggung jawabkan segala amal perbuatannya di
akhirat.
Perlu digaris bawahi bahwa manusia mungkin saja membiarkan dirinya secara
sengaja untuk dibelenggu oleh sihir tersebut. Mereka beranggapan bahwa dengan
melakukan hal ini mereka akan hidup dengan tentram. Syukurlah bahwa ternyata
sangat mudah bagi seseorang untuk merubah kondisi yang demikian serta
melenyapkan kelumpuhan mental atau akalnya, sehingga ia dapat hidup dalam
kesadaran untuk mengetahui kenyataan. Allah telah memberikan jalan keluar
kepada manusia; manusia yang merenung dan berpikir akan mampu melepaskan diri
dari belenggu sihir pada saat mereka masih di dunia. Selanjutnya, ia akan
memahami tujuan dan makna yang hakiki dari segala peristiwa yang ada. Ia pun
akan mampu memahami kebijaksanaan dari apapun yang Allah ciptakan setiap saat.
Seseorang dapat berpikir kapanpun dan dimanapun
Berpikir tidaklah memerlukan waktu, tempat ataupun kondisi khusus.
Seseorang dapat berpikir sambil berjalan di jalan raya, ketika pergi ke kantor,
mengemudi mobil, bekerja di depan komputer, menghadiri pertemuan dengan
rekan-rekan, melihat TV ataupun ketika sedang makan siang.
Misalnya: di saat sedang mengemudi mobil, seseorang melihat ratusan orang
berada di luar. Ketika menyaksikan mereka, ia terdorong untuk berpikir tentang
berbagai macam hal. Dalam benaknya tergambar penampilan fisik dari ratusan
orang yang sedang disaksikannya yang sama sekali berbeda satu sama lain. Tak
satupun diantara mereka yang mirip dengan yang lain. Sungguh menakjubkan:
kendatipun orang-orang ini memiliki anggota tubuh yang sama, misalnya sama-sama
mempunyai mata, alis, bulu mata, tangan, lengan, kaki, mulut dan hidung; tetapi
mereka terlihat sangat berbeda satu sama lain. Ketika berpikir sedikit mendalam, ia akan teringat bahwa:
Allah telah menciptakan bilyunan manusia selama ribuan tahun, semuanya
berbeda satu dengan yang lain. Ini adalah bukti nyata tentang ke Maha Perkasaan
dan ke Maha Besaran Allah.
Menyaksikan manusia yang sedang lalu lalang dan bergegas menuju tempat
tujuan mereka masing-masing, dapat memunculkan beragam pikiran di benak
seseorang. Ketika pertama kali memandang, muncul di pikirannya: manusia yang
jumlahnya banyak ini terdiri atas individu-individu yang khas dan unik. Tiap
individu memiliki dunia, keinginan, rencana, cara hidup, hal-hal yang
membuatnya bahagia atau sedih, serta perasaannya sendiri. Secara umum, setiap
manusia dilahirkan, tumbuh besar dan dewasa, mendapatkan pendidikan, mencari
pekerjaan, bekerja, menikah, mempunyai anak, menyekolahkan dan menikahkan
anak-anaknya, menjadi tua, menjadi nenek atau kakek dan pada akhirnya meninggal
dunia. Dilihat dari sudut pandang ini, ternyata perjalanan hidup semua manusia
tidaklah jauh berbeda; tidak terlalu penting apakah ia hidup di perkampungan di
kota Istanbul atau di kota besar seperti Mexico, tidak ada bedanya sedikitpun.
Semua orang suatu saat pasti akan mati, seratus tahun lagi mungkin tak satupun
dari orang-orang tersebut yang akan masih hidup. Menyadari kenyataan ini,
seseorang akan berpikir dan bertanya kepada dirinya sendiri: "Jika kita
semua suatu hari akan mati, lalu apakah gerangan yang menyebabkan manusia
bertingkah laku seakan-akan mereka tak akan pernah meninggalkan dunia ini?
Seseorang yang akan mati sudah sepatutnya beramal secara sungguh-sungguh untuk
kehidupannya setelah mati; tetapi mengapa hampir semua manusia berkelakuan
seolah-olah hidup mereka di dunia tak akan pernah berakhir?"
Orang yang memikirkan hal-hal semacam ini lah yang dinamakan orang yang
berpikir dan mencapai kesimpulan yang sangat bermakna dari apa yang ia
pikirkan.
Sebagian besar manusia tidak berpikir tentang masalah kematian dan apa yang
terjadi setelahnya. Ketika mendadak ditanya,"Apakah yang sedang anda
pikirkan saat ini?", maka akan terlihat bahwa mereka sedang memikirkan
segala sesuatu yang sebenarnya tidak perlu untuk dipikirkan, sehingga tidak
akan banyak manfaatnya bagi mereka. Namun, seseorang bisa juga
"berpikir" hal-hal yang "bermakna", "penuh hikmah"
dan "penting" setiap saat semenjak bangun tidur hingga kembali ke
tempat tidur, dan mengambil pelajaran ataupun kesimpulan dari apa yang
dipikirkannya.
Dalam Al-Qur'an, Allah menyatakan bahwa orang-orang yang beriman memikirkan
dan merenungkan secara mendalam segala kejadian yang ada dan mengambil
pelajaran yang berguna dari apa yang mereka pikirkan.
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya
malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu)
orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan
berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya
berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia,
Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (QS. Aali
‘Imraan, 3: 190-191).
Ayat di atas menyatakan bahwa oleh karena orang-orang yang beriman adalah
mereka yang berpikir, maka mereka mampu melihat hal-hal yang menakjubkan dari
ciptaan Allah dan mengagungkan Kebesaran, Ilmu serta Kebijaksanaan Allah.
Berpikir dengan ikhlas sambil menghadapkan
diri kepada Allah
Agar sebuah perenungan menghasilkan manfaat dan seterusnya menghantarkan
kepada sebuah kesimpulan yang benar, maka seseorang harus berpikir positif.
Misalnya: seseorang melihat orang lain dengan penampilan fisik yang lebih baik
dari dirinya. Ia lalu merasa dirinya rendah karena kekurangan yang ada pada
fisiknya dibandingkan dengan orang tersebut yang tampak lebih rupawan. Atau ia
merasa iri terhadap orang tersebut. Ini adalah pikiran yang tidak dikehendaki
Allah. Jika ridha Allah yang dicari, maka seharusnya ia menganggap bagusnya
bentuk rupa orang yang ia lihat sebagai wujud dari ciptaan Allah yang sempurna.
Dengan melihat orang yang rupawan sebagai sebuah keindahan yang Allah ciptakan
akan memberikannya kepuasan. Ia berdoa kepada Allah agar menambah keindahan
orang tersebut di akhirat. Sedang untuk dirinya sendiri, ia juga meminta kepada
Allah agar dikaruniai keindahan yang hakiki dan abadi di akhirat kelak. Hal serupa
seringkali dialami oleh seorang hamba yang sedang diuji oleh Allah untuk
mengetahui apakah dalam ujian tersebut ia menunjukkan perilaku serta pola pikir
yang baik yang diridhai Allah atau sebaliknya.
Keberhasilan dalam menempuh ujian tersebut, yakni dalam melakukan
perenungan ataupun proses berpikir yang mendatangkan kebahagiaan di akhirat,
masih ditentukan oleh kemauannya dalam mengambil pelajaran atau peringatan dari
apa yang ia renungkan. Karena itu, sangatlah ditekankan disini bahwa seseorang
hendaknya selalu berpikir secara ikhlas sambil menghadapkan diri kepada Allah.
Allah berfirman dalam Al-Qur'an :
"Dia lah yang memperlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan)-Nya dan
menurunkan untukmu rezki dari langit. Dan tiadalah mendapat pelajaran kecuali orang-orang
yang kembali (kepada Allah)." (QS. Ghaafir, 40: 13).
Tentang Apakah
Manusia Biasanya Berpikir?
Dalam bab terdahulu telah disebutkan bahwa kebanyakan manusia tidak
berpikir sebagaimana seharusnya mereka berpikir dan tidak mengembangkan sarana
dan potensi berpikir mereka. Namun ada satu hal lagi yang penting untuk
dijelaskan di sini. Tidak dapat dipungkiri bahwa hal-hal tertentu selalu
terlintas dalam benak manusia setiap saat sepanjang hidupnya. Hampir tidak ada
masa, kecuali ketika tidur, dimana pikiran manusia benar-benar kosong.
Sayangnya, sebagian besar dari pikiran-pikiran ini tidak berguna,
"sia-sia" dan "tidak perlu", sehingga tidak akan bermanfaat
di akherat kelak, tidak menuntun ke arah yang benar dan tidak mendatangkan
kebaikan kepadanya.
Andaikata seseorang berusaha untuk mengingat apa-apa yang telah
dipikirkannya pada suatu hari, lalu mencatat dan memeriksanya dengan seksama di
penghujung hari tersebut, ia akan melihat betapa sia-sianya kebanyakan dari apa
yang telah ia pikirkan. Andaikata ia menemukan sebagian dari padanya
bermanfaat, maka boleh jadi ia tertipu. Sebab secara keseluruhan,
pikiran-pikiran yang menurutnya benar adakalanya ternyata tidak akan
mendatangkan keuntungan sedikitpun di akhirat.
Seperti halnya membuang waktu dengan melakukan pekerjaan yang sia-sia dalam
kehidupan sehari-hari, manusia adakalanya pula menghabiskan waktunya secara
sia-sia dengan terbawa oleh pikiran-pikiran yang tidak bermanfaat. Dalam ayat:
"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman…yaitu…(dan)
orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada
berguna" (QS. Al-Mukminun, 23 :1&3) Allah mengajak manusia agar
bersungguh-sungguh dalam masalah ini. Sudah pasti bahwa perintah Allah di ayat
tersebut juga berlaku dalam hal berpikir. Sebab pikiran-pikiran yang tidak
terkendali akan terus-menerus mengalir dalam benak seseorang. Seseorang dengan
sadar mengalihkan pikirannya dari satu hal ke hal lain. Ketika sedang dalam
perjalanan pulang ke rumah, seseorang memikirkan rencana untuk berbelanja.
Mendadak kemudian ia berpikir tentang hal lain, yakni apa-apa yang pernah
dikatakan temannya satu atau dua tahun yang lalu. Pikiran yang tidak terkontrol
dan tidak berguna ini dapat berlangsung terus-menerus sepanjang hari. Padahal,
yang kuasa mengontrol pikiran-pikiran tersebut adalah dirinya sendiri. Setiap
orang memiliki kemampuan untuk memikirkan sesuatu yang dapat memperbaiki
keadaan dirinya; meningkatkan keimanan, kemampuan berpikir, perilaku; serta
memperbaiki keadaan sekelilingnya.
Dalam bab ini akan diuraikan beberapa hal yang pada umumnya cenderung
dipikirkan oleh mereka yang berada dalam kelalaian. Alasan mengapa masalah
tersebut dijelaskan secara panjang lebar adalah agar orang-orang yang lalai,
dan yang membaca buku ini, segera menyadari bahwa ketika di kemudian hari
peristiwa yang sebagaimana disebutkan di buku ini terlintas dalam benak mereka
ketika dalam perjalanan ke tempat kerja atau ke sekolah; atau ketika sedang
melakukan pekerjaan yang rutin, mereka tidak lagi berpikir tentang hal-hal yang
sia-sia. Sebaliknya mereka akan mampu mengendalikan pikiran-pikiran mereka dan
berpikir segala sesuatu yang benar-benar berguna bagi diri mereka.
Khayalan yang tidak bermanfaat
Ketidakmampuan dalam mengendalikan pikiran ke arah yang baik akan
mengakibatkan seseorang seringkali merasa khawatir atau mengalami
peristiwa-peristiwa yang sebenarnya belum terjadi seolah-olah telah terjadi
dalam benaknya, dan terseret dalam kesedihan, kekhawatiran dan ketakutan.
Misalnya, orang tua yang mempunyai anak yang tengah belajar untuk
menghadapi ujian kadangkala membuat sebuah skenario sebelum ujian tersebut
berlangsung dalam benaknya: "Apa yang akan terjadi jika anaknya tidak
lulus ujian? Jika anak laki-lakinya tidak memperoleh pekerjaan yang layak di
masa depan, mendapatkan penghasilan yang cukup, maka ia tidak dapat menikah.
Kalaulah ia menikah, bagaimana ia dapat membiayai pernikahannya? Jika ia tidak
lulus ujian, semua uang yang dikeluarkan untuk persiapan ujian tersebut akan
terbuang percuma. Tambahan lagi, ia akan terhina di mata orang-orang. Apalagi
jika anak laki-laki teman dekatnya ternyata lulus sedang anaknya sendiri
gagal…"
Khayalan-khayalan tersebut terus berkembang, padahal anaknya belum
melaksanakan ujian. Seseorang yang jauh dari agama akan mudah terbawa oleh
khayalan sia-sia yang serupa sepanjang hidupnya. Hal ini tentu ada sebabnya.
Al-Qur'an menyebutkan bahwa yang menyebabkan manusia terbelenggu oleh khayalan
atau angan-angan kosong adalah dikarenakan mereka membiarkan telinga mereka
dibisiki oleh syaitan:
"Dan aku (syaitan) benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan
membangkitkan angan-angan kosong pada mereka ..." (QS. An-Nisaa’, 4: 119)
Sebagaimana termaktub dalam ayat di atas, mereka yang terbawa oleh khayalan
kosong, akan melupakan Allah, tidak berpikir, dan senantiasa menerima
bisikan-bisikan syaitan. Dengan kata lain, jika seseorang yang tertipu oleh
kehidupan dunia tidak menggunakan kekuatan tekad mereka, tidak bertindak secara
sadar dan berusaha meninggalkan kondisi yang demikian, ia akan berada dalam
kendali syaitan secara penuh. Satu diantara pekerjaan syaitan yang patut
diketahui adalah senantiasa menimbulkan keragu-raguan dan khayalan-khayalan
kosong dalam diri manusia. Oleh karena itu, segala khayalan, perasaan putus asa
dan kekhawatiran seperti: "apa yang akan saya perbuat jika akan terjadi
yang demikian" terbentuk dalam benak seseorang akibat bisikan-bisikan
syaitan.
Allah telah memberikan jalan keluar dari keadaan yang buruk ini. Dalam
Al-Qur'an, ketika niatan-niatan jahat syaitan melingkupi manusia, mereka
dianjurkan untuk minta perlindungan kepada Allah dan mengingat-Nya:
"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was
dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat
kesalahan-kesalahannya. Dan teman-teman mereka (orang-orang kafir dan fasik)
membantu syaitan-syaitan dalam menyesatkan dan mereka tidak henti-hentinya
(menyesatkan)" (QS. Al-A’raaf, 7: 201-202)
Sebagaimana disebutkan dalam ayat tersebut, mereka yang berpikir akan dapat
mengetahui mana yang benar, sebaliknya mereka yang tidak berpikir akan menuju
ke arah mana saja syaitan menyeret mereka.
Yang terpenting adalah mengetahui bahwa khayalan-khayalan semacam ini tidak
akan mendatangkan manfaat kepada manusia. Bahkan sebaliknya, menghambat mereka
dari memikirkan tentang kebenaran, hal-hal yang penting; dan mencegah
kebersihan akal dari segala hal yang sia-sia. Manusia mampu berpikir secara
benar jika akalnya telah bebas dari pikiran yang sia-sia dan tidak bermanfaat.
Dengan demikian, mereka "menghindarkan diri dari apapun yang tidak
bermanfaat" sebagaiman Allah perintahkan dalam Al-Qur'an.
Faktor-faktor Apakah
Yang Menyebabkan
Manusia Tidak Mau Berpikir?
Ada banyak sebab yang menghalangi manusia untuk berpikir. Satu, atau
beberapa, atau semua sebab ini dapat mencegah seseorang untuk berpikir dan
memahami kebenaran. Oleh karena itu, perlu kiranya setiap orang mencari
faktor-faktor yang menyebabkan mereka berada dalam kondisi yang kurang baik
tersebut, dan berusaha melepaskan diri darinya. Jika tidak dilakukan, ia tidak
akan mampu mengetahui realitas yang sebenarnya dari kehidupan dunia yang pada
akhirnya menghantarkannya kepada kerugian besar di akhirat.
Dalam Al-Qur'an Allah memberitakan keadaan orang-orang yang terbiasa
berpikir dangkal:
"Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia;
sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai Dan mengapa mereka tidak
memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan
bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan tujuan yang benar dan
waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia
benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya". (QS. Ar-Ruum, 30: 7-8)
Kelumpuhan mental akibat mengikuti kebanyakan orang
Satu sebab yang membuat kebanyakan orang tersesat adalah keyakinannya bahwa
apa yang dilakukan "sebagian besar" manusia adalah benar. Manusia
biasanya lebih cenderung menerima apa yang diajarkan oleh orang-orang
disekitarnya, daripada berpikir untuk mencari sendiri kebenaran dari apa yang
diajarkan tersebut. Ia melihat bahwa hal-hal yang pada mulanya kelihatannya
janggal seringkali dianggap biasa oleh kebanyakan orang, atau bahkan tidak
terlalu dipedulikan. Maka setelah beberapa lama, ia kemudian menjadi terbiasa
juga dengan hal-hal tersebut.
Sebagai contoh: sebagian besar dari teman-teman di sekitarnya tidak berpikir
bahwa suatu hari mereka akan mati. Mereka bahkan tidak membiarkan satu orang
pun berbicara mengenai masalah ini untuk mengingatkan tentang kematian.
Seseorang yang berada dalam lingkungan yang demikian akan berkata,"Karena
semua orang seperti itu, maka tidak ada salahnya jika saya berperilaku sama
seperti mereka." Lalu orang tersebut menjalani hidupnya tanpa mengingat
kematian sama sekali. Sebaliknya, jika orang-orang di sekitarnya bertingkah
laku sebagai orang yang takut kepada Allah dan beramal secara sungguh-sungguh
untuk hari akhir, sangat mungkin orang ini akan juga berubah sikap.
Sebagai contoh tambahan: ratusan berita tentang bencana alam,
ketidakadilan, ketidakjujuran, kedzaliman, bunuh diri, pembunuhan, pencurian,
penggelapan uang diberitakan di TV dan majalah-majalah. Ribuan orang yang
membutuhkan bantuan disebutkan setiap hari. Tetapi banyak dari mereka yang
membaca berita-berita tersebut, membolak-balik halaman surat kabar atau menekan
tombol TV dengan tenangnya. Pada umumnya, manusia tidak memikirkan mengapa
berita-berita semacam ini demikian banyak; apa yang harus dilakukan dan
persiapan-persiapan apa yang harus dilakukan untuk mencegah terjadinya
peristiwa yang sedemikian mengenaskan; serta apa yang dapat mereka lakukan
untuk mengatasi masalah tersebut. Kebanyakan manusia menuding orang atau pihak
lain bertanggung jawab atas kejadian-kejadian tersebut. Dengan seenaknya mereka
melontarkan kata-kata seperti "apakah menjadi tanggung jawab saya untuk
menyelamatkan dunia ini?"
Kemalasan mental
Kemalasan adalah sebuah faktor yang menghalangi kebanyakan manusia dari
berpikir.
Akibat kemalasan mental, manusia melakukan segala sesuatu sebagaimana yang
pernah mereka saksikan dan terbiasa mereka lakukan. Untuk memberikan sebuah
contoh dari kehidupan sehari-hari: cara yang digunakan para ibu rumah tangga
dalam membersihkan rumah adalah sebagaimana yang telah mereka lihat dari
ibu-ibu mereka dahulu. Pada umumnya tidak ada yang berpikir, "Bagaimana
membersihkan rumah dengan cara yang lebih praktis dan hasil yang lebih
bersih" dengan kata lain, berusaha menemukan cara baru. Demikian juga,
ketika ada yang perlu diperbaiki, manusia biasanya menggunakan cara yang telah
diajarkan ketika mereka masih kanak-kanak. Umumnya mereka enggan berusaha
menemukan cara baru yang mungkin lebih praktis dan berdaya guna. Cara berbicara
orang-orang ini juga sama. Cara bagaimana seorang akuntan berbicara, misalnya,
sama seperti akuntan-akuntan yang lain yang pernah ia lihat selama hidupnya.
Para dokter, banker, penjual…..dan orang-orang dari latar belakang apapun
mempunyai cara bicara yang khas. Mereka tidak berusaha mencari yang paling
tepat, paling baik dan paling menguntungkan dengan berpikir. Mereka sekedar
meniru dari apa yang telah mereka lihat.
Cara pemecahan masalah yang dipakai juga menunjukkan kemalasan dalam
berpikir. Sebagai contoh: dalam menangani masalah sampah, seorang manajer
sebuah gedung menerapkan metode yang sama sebagaimana yang telah dipakai oleh
manajer sebelumnya. Atau seorang walikota berusaha mencari jalan keluar tentang
masalah jalan raya dengan meniru cara yang digunakan oleh walikota-walikota
sebelumnya. Dalam banyak hal, ia tidak dapat mencari pemecahan yang baru
dikarenakan tidak mau berpikir.
Sudah pasti, contoh-contoh di atas dapat berakibat fatal bagi kehidupan
manusia jika tidak ditangani secara benar. Padahal masih banyak masalah yang
lebih penting dari itu semua. Bahkan jika tidak dipikirkan, akan mendatangkan
kerugian yang besar dan kekal bagi manusia. Penyebab kerugian tersebut adalah
kegagalan seseorang dalam berpikir tentang tujuan keberadaannya di dunia;
ketidakpedulian akan kematian sebagai suatu kenyataan yang tidak dapat
dihindari; dan kepastian akan hari penghisaban setelah mati. Dalam Al-Qur'an,
Allah mengajak manusia untuk merenungkan fakta yang sangat penting ini:
"Mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, dan
lenyaplah dari mereka apa yang selalu mereka ada-adakan. Pasti mereka itu di
akhirat menjadi orang-orang yang paling merugi. Sesungguhnya orang-orang yang
beriman dan mengerjakan amal-amal saleh dan merendahkan diri kepada Tuhan
mereka, mereka itu adalah penghuni-penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.
Perbandingan kedua golongan itu (orang-orang kafir dan orang-orang mukmin),
seperti orang buta dan tuli dengan orang yang dapat melihat dan dapat
mendengar. Adakah kedua golongan itu sama keadaan dan sifatnya? Maka tidakkah
kamu mengambil pelajaran (daripada perbandingan itu)?" (QS. Huud, 11:
21-24)
"Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat
menciptakan (apa-apa) ? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran." (QS.
An-Nahl, 16: 17)
Anggapan bahwa berpikir secara mendalam
tidaklah baik
Ada sebuah kepercayaan yang kuat dalam masyarakat bahwa berpikir secara
mendalam tidaklah baik. Mereka saling mengingatkan satu sama lain dengan
mengatakan "jangan terlalu banyak berpikir, anda akan kehilangan
akal". Sungguh ini tidak lain hanyalah omong kosong yang
didengung-dengungkan oleh mereka yang jauh dari agama. Yang seharusnya dihindari
bukanlah tidak berpikir, akan tetapi memikirkan keburukan; atau terjerumus
dalam keragu-raguan, khayalan-khayalan atau angan-angan kosong.
Mereka yang tidak memiliki keimanan yang kuat kepada Allah dan hari akhir,
tidak berpikir mengenai hal-hal yang baik dan bermanfaat, akan tetapi hal-hal
yang negatif. Sehingga hasil yang tidak bermanfaatlah yang pada akhirnya muncul
dari perenungan mereka. Mereka berpikir, misalnya, bahwa hidup di dunia adalah
sementara, dan bahwa mereka suatu hari akan mati, akan tetapi hal ini
menjadikan mereka putus harapan. Sebab secara sadar mereka tahu bahwa menjalani
kehidupan tanpa mengikuti perintah Allah hanya akan menyengsarakan mereka di
akhirat. Sebagian dari mereka bersikap pesimistik karena berkeyakinan bahwa
mereka akan lenyap sama sekali setelah mati.
Orang yang bijak, yang beriman kepada Allah dan hari kemudian memiliki pola
pikir yang sama sekali berbeda ketika mengetahui bahwa hidup di dunia hanyalah
sementara. Pertama-tama, kesadarannya akan kehidupan dunia yang sementara mendorongnya
untuk memulai sebuah perjuangan atau kerja keras yang sungguh-sungguh untuk
kehidupannya yang hakiki dan abadi di akhirat. Karena tahu bahwa hidup ini
cepat atau lambat akan berakhir, ia tidak terlenakan oleh ambisi syahwat dan
kepentingan dunia. Ia terlihat sangat tenang. Tak satupun peristiwa yang
menimpanya dalam kehidupan yang sementara ini membuatnya marah. Dengan ceria ia
selalu berpikir tentang harapan untuk meraih kehidupan yang abadi dan
menyenangkan di akhirat. Ia juga sangat menikmati keberkahan dan keindahan
dunia. Allah telah menciptakan kehidupan dunia dengan tidak sempurna dan penuh
kekurangan sebagai ujian bagi manusia. Ia berpikir bahwa jika dalam kehidupan
di dunia yang tidak sempurna dan cacat ini terdapat demikian banyak kenikmatan
untuk manusia, maka sudah pasti kehidupan surga amat tak terbayangkan lagi
keindahannya. Ia mendambakan untuk melihat keindahan yang hakiki di akhirat.
Dan ia memahami semua hal tersebut setelah berpikir secara mendalam.
Berlepas diri dari tanggung jawab melaksanakan
apa yang diperoleh dari berpikir
Kebanyakan manusia beranggapan bahwa mereka dapat mengelak dari berbagai
macam tanggung jawab dengan menghindarkan diri dari berpikir, dan mengalihkan
akalnya untuk memikirkan hal-hal yang lain. Dengan melakukan yang demikian di
dunia, mereka berhasil melepaskan diri mereka sendiri dari beragam masalah.
Satu diantara banyak hal yang sangat menipu manusia adalah anggapan bahwa
mereka akan dapat membebaskan diri dari kewajiban mereka kepada Allah dengan
cara tidak berpikir. Inilah sebab utama yang membuat mereka tidak berpikir
tentang kematian dan kehidupan setelahnya. Jika seseorang berpikir bahwa ia
suatu hari akan mati dan selalu ingat bahwa ada kehidupan abadi setelah mati, maka
ia wajib bekerja keras untuk kehidupannya setelah mati. Tetapi ia telah menipu
dirinya sendiri ketika berkeyakinan bahwa kewajiban tersebut akan lepas dengan
sendirinya ketika ia tidak berpikir tentang keberadaan akhirat. Ini adalah
kekeliruan yang sangat besar, dan jika seseorang tidak mendapatkan kebenaran di
dunia dengan berpikir, maka setelah kematiannya ia baru akan menyadari bahwa
tidak ada jalan keluar baginya untuk meloloskan diri.
"Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang
kamu selalu lari daripadanya. Dan ditiuplah sangkakala. Itulah hari terlaksananya ancaman." (QS. Qaaf, 50: 19-20)
Tidak berpikir akibat terlenakan oleh kehidupan
sehari-hari
Kebanyakan manusia menghabiskan keseluruhan hidup mereka dalam
"ketergesa-gesaan". Ketika mencapai umur tertentu, mereka harus
bekerja dan menanggung hidup diri mereka dan keluarga mereka. Mereka menganggap
hal ini sebagai sebuah "perjuangan hidup". Dan, karena harus bekerja
keras, jungkir balik dalam pekerjaan, mereka mengatakan tidak mempunyai waktu
lagi untuk hal-hal yang lain, termasuk berpikir. Akhirnya mereka pun terbawa
larut oleh arus ke arah mana saja kehidupan mereka ini membawa mereka. Dengan
demikian, mereka menjadi tidak peka lagi dengan peristiwa-peristiwa yang
terjadi di sekitar.
Namun, tidak sepatutnya manusia memiliki tujuan hidup hanya sekedar
menghabiskan waktu; bergegas pergi dari satu tempat ke tempat yang lain. Yang
terpenting di sini adalah kemampuan melihat kenyataan sesungguhnya dari
kehidupan dunia ini untuk kemudian menempuh jalan hidup yang sebenarnya. Tidak
ada satu orang pun yang mempunyai tujuan akhir mendapatkan uang, bekerja,
belajar di universitas atau membeli rumah. Sudah barang tentu manusia perlu
melakukan ini semua dalam hidupnya, namun yang mesti senantiasa ada dalam
benaknya ketika melakukan segala hal tersebut yaitu kesadaran akan keberadaan
manusia di dunia sebagai hamba Allah, untuk bekerja demi mencari ridha, kasih
sayang dan surga Allah. Segala perbuatan dan pekerjaan selain untuk tujuan
tersebut hanyalah berfungsi sebagai "sarana" untuk membantu manusia
dalam meraih tujuan yang sebenarnya. Menempatkan sarana sebagai tujuan utama
adalah sebuah kekeliruan yang amat besar yang didengung-dengungkan syaitan
kepada manusia.
Seseorang yang hidup tanpa berpikir akan mudah sekali menjadikan sarana
tersebut sebagai tujuan. Kita dapat menyebutkan contoh-contoh lain yang serupa
dalam kehidupan sehari-hari, misalnya: tidak dapat diragukan bahwa bekerja dan
menghasilkan berbagai hal yang bermanfaat untuk masyarakat adalah perbuatan
baik. Seseorang yang beriman kepada Allah akan melakukan pekerjaan tersebut
dengan bersemangat sambil mengharapkan balasan Allah di dunia dan di akhirat.
Sebaliknya jika seseorang melakukan hal yang sama tanpa mengingat Allah dan
hanya mengharapkan imbalan dunia, seperti mendapatkan jabatan tinggi agar
dihormati oleh masyarakat, maka ia telah melakukan kekeliruan. Ia telah
melakukan sesuatu yang sebenarnya dapat digunakan sebagai sarana untuk mencapai
tujuannya, yakni mencari ridha Allah. Ketika menemukan realitas yang sebenarnya
di akhirat, ia merasa sangat menyesal karena telah melakukan hal yang demikian.
Dalam sebuah ayat, Allah merujuk ke mereka yang terpedaya oleh kehidupan dunia
sebagaimana berikut:
"(Keadaan kamu hai orang-orang munafik dan musyrikin) adalah seperti
keadaan orang-orang sebelum kamu, mereka lebih kuat daripada kamu, dan lebih
banyak harta dan anak-anaknya dari kamu. Maka mereka telah menikmati bagian
mereka, dan kamu telah menikmati bagian kamu sebagaimana orang-orang yang
sebelummu menikmati bagiannya, dan kamu mempercakapkan (hal yang batil)
sebagaimana mereka mempercakapkannya. Mereka itu amalannya menjadi sia-sia di
dunia dan di akhirat; dan mereka itulah orang-orang yang merugi." (QS.
At-Taubah, 9: 69).
Melihat
segala sesuatu dengan "penglihatan yang
biasa",
sekedar melihat tanpa perenungan
Ketika
melihat beberapa hal yang baru untuk pertama kalinya, manusia mungkin menemukan
berbagai hal yang luar biasa yang mendorong mereka berkeinginan untuk
mengetahui lebih jauh apa yang sedang mereka lihat tersebut. Namun setelah
sekian lama, mereka mulai terbiasa dengan hal-hal ini dan tidak lagi merasa
takjub. Terutama sebuah benda ataupun kejadian yang mereka temui setiap hari
sudah menjadi sesuatu yang "biasa" saja bagi mereka.
Sebagai
contoh, beberapa orang calon dokter merasakan adanya pengaruh terhadap dirinya
ketika pertama kali melihat jenazah. Saat pertama
kali satu di antara para pasien mereka meninggal dapat membuat mereka termenung
lama. Padahal beberapa menit yang lalu jasad tak bernyawa ini masih hidup,
tertawa, memikirkan rencana-rencana, berbicara, menikmati hidup dengan wajah
yang ceria. Orang yang tadinya hidup serta melihat dengan mata yang ceria,
berbicara tentang rencana masa depan, menikmati sarapan di pagi hari mendadak
terbaring tanpa ruh. Ketika pertama kali mayat tersebut diletakkan di depan
para dokter tersebut untuk diautopsi, mereka berpikir segala hal yang mereka
lihat padanya. Tubuhnya membusuk demikian cepat, bau yang menusuk hidung pun
tercium, rambut yang tadinya terlihat indah menjadi demikian kusut hingga tak
seorang pun sudi menyentuhnya. Kesemua ini termasuk apa yang ada di benak
mereka. Lalu mereka pun berpikir: bahan pembentuk semua manusia adalah sama dan
jasad mereka akan mengalami akhir yang serupa, yakni mereka pun akan menjadi
seperti mayat yang mereka saksikan.
Namun, setelah berulang-ulang melihat beberapa mayat dan mendapati beberapa
pasiennya meninggal dunia, orang-orang ini pada akhirnya menjadi terbiasa.
Mereka lalu memperlakukan mayat-mayat, atau bahkan para pasien mereka
sebagaimana barang atau benda.
Sungguh, ini tidak berlaku terhadap dokter saja. Terhadap kebanyakan
manusia, hal yang sama dapat terjadi dalam kehidupan mereka. Sebagai contoh,
ketika seseorang yang biasa hidup dalam kesusahan dikaruniai kehidupan yang
serba berkecukupan, ia akan sadar bahwa semua yang ia miliki adalah sebuah
kenikmatan untuknya. Tempat tidurnya menjadi lebih nyaman, tempat tinggalnya
menghadap ke arah pemandangan yang indah, ia dapat membeli apapun yang
diinginkannya, menghangatkan rumahnya di musim dingin sekehendaknya, dengan
mudahnya pergi dari satu tempat ke tempat yang lain dengan kendaraan, dan
banyak hal lain yang kesemuanya adalah kenikmatan baginya. Ketika membandingkan
dengan keadaan yang sebelumnya, ia akan merasa bersyukur dan bahagia. Akan
tetapi, bagi orang yang telah memiliki kesemua ini sejak lahir mungkin tak
pernah terlalu memikirkan tentang nilai dari semua kenikmatan tersebut. Jadi,
penilaian terhadap segala kenikmatan ini tidak mungkin dilakukannya tanpa ia
mau berpikir secara mendalam.
Lain halnya bagi seseorang yang mau merenung, tidaklah menjadi persoalan
apakah ia mendapatkan segala kenikmatan tersebut sejak lahir atau di kemudian
hari. Sebab ia tidak pernah melihat apa yang dimilikinya sebagai sesuatu yang
biasa-biasa saja. Ia paham bahwa segala yang ia punyai adalah ciptaan Allah.
Sekehendak-Nya, Allah berkuasa mengambil semua kenikmatan yang ada darinya. Sebagai
contoh, orang-orang mukmin ketika menaiki hewan tunggangan, yakni kendaraan,
mereka akan berdoa:
"Supaya kamu duduk di atas punggungnya kemudian kamu ingat nikmat
Tuhanmu apabila kamu telah duduk di atasnya; dan supaya kamu
mengatakan:"Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami
padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan
kembali kepada Tuhan kami." (QS. Az-Zukhruf, 43: 13-14)
Di ayat lain, dikisahkan bahwa ketika orang-orang yang beriman memasuki
kebun-kebun atau taman-taman mereka, mereka mengingat Allah seraya berkata, "Atas
kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan
Allah" (QS. Al-Kahfi, 18: 39). Ini adalah sebuah isyarat bahwa setiap
saat ketika memasuki taman-taman mereka, muncul dalam benak mereka: Allah lah
yang menciptakan dan memelihara taman ini. Sebaliknya, seseorang yang tidak
berpikir mungkin takjub ketika pertama kali melihat sebuah taman yang indah,
tetapi kemudian taman tersebut menjadi sebuah tempat yang biasa-biasa saja
baginya. Kekagumannya atas keindahan tersebut telah sirna. Sebagian orang sama
sekali tidak menyadari nikmat tersebut dikarenakan tidak berpikir. Mereka
menganggap segala kenikmatan yang ada sebagai hal yang "biasa" atau "lumrah"
dan sebagai "sesuatu yang memang seharusnya sudah demikian". Inilah
yang menjadikan mereka tidak dapat merasakan kenikmatan dari keindahan taman
tersebut.
Kesimpulan: wajib atas manusia untuk menghilangkan
segala penyebab yang menghalangi mereka dari berpikir
Sebagaimana telah dikatakan sebelumnya, fakta bahwa kebanyakan manusia
tidak berpikir dan hidup dalam keadaan lalai dari kebenaran tidak menjadi
alasan bagi seseorang untuk tidak berpikir. Setiap manusia mempunyai kebebasan
terhadap dirinya sendiri, dan ia akan bertanggung jawab atas dirinya sendiri di
hadapan Allah. Mesti senantiasa diingat bahwa Allah menguji manusia dalam
hidupnya di dunia. Sikap orang-orang selain dirinya yang sering kali acuh,
tidak mau berpikir, bernalar ataupun memahami kebenaran adalah bagian dari
ujian untuknya. Seseorang yang berpikir dengan ikhlas tidak akan
berkata,"Kebanyakan manusia tidak berpikir, dan tidak menyadari akan hal
ini, lalu mengapa saya sendirian yang mesti berpikir?" Tetapi, ia akan
menerima dan menjalani ujian tersebut dengan memikirkan tentang kelalaian
orang-orang terebut, dan memohon perlindungan Allah agar tidak menjadikannya
termasuk dalam golongan mereka. Sudah jelas bahwa keadaan mereka bukanlah
alasan baginya untuk tidak berpikir. Dalam Al-Qur'an, Allah memberitakan di
banyak ayat bahwa kebanyakan manusia berada dalam kelalaian dan tidak beriman:
"Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman - walaupun kamu
sangat menginginkannya." (QS. Yuusuf, 12: 103)
"Alif laam miim raa. Ini adalah ayat-ayat Al Kitab (Al Qur’an). Dan
Kitab yang diturunkan kepadamu daripada Tuhanmu itu adalah benar: akan tetapi
kebanyakan manusia tidak beriman (kepadanya)." (QS. Ar-Ra’d, 13: 1)
"Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpahnya yang
sungguh-sungguh: "Allah tidak akan akan membangkitkan orang yang
mati". (Tidak demikian), bahkan (pasti Allah akan membangkitnya), sebagai
suatu janji yang benar dari Allah, akan tetapi kebanyakan manusia tiada
mengetahui," (QS. An-Nahl, 16: 38)
"Dan sesungguhnya Kami telah mempergilirkan hujan itu diantara manusia
supaya mereka mengambil pelajaran (dari padanya); maka kebanyakan manusia itu
tidak mau kecuali mengingkari (ni'mat)." (QS. Al-Furqaan,
25: 50)
Di lain
ayat, Allah menceritakan kesudahan dari mereka yang tersesat akibat mengikuti
kebanyakan manusia; dan tidak mematuhi perintah Allah akibat melalaikan tujuan
penciptaan mereka:
"Dan
mereka berteriak di dalam neraka itu: "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami
niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami
kerjakan". Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup
untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan (apakah tidak) datang kepada
kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (adzab Kami) dan tidak ada bagi
orang-orang yang dzalim seorang penolongpun." (QS. Faathir, 35:37)
Berdasarkan
dalil di atas, setiap manusia hendaknya membuang segala sesuatu yang mencegah
mereka dari berpikir untuk kemudian secara ikhlas dan jujur memikirkan dengan
seksama setiap ciptaan ataupun kejadian yang Allah ciptakan, serta mengambil
pelajaran dan peringatan dari apa yang ia pikirkan.
Dalam
bab berikutnya, kami akan menguraikan tentang berbagai hal yang dapat
dipikirkan dan direnungkan oleh manusia, yakni beberapa peristiwa dan ciptaan
Allah yang dapat ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan kami adalah untuk
memberikan petunjuk tentang masalah ini kepada para pembaca agar mereka mampu
menjalani sisa hidupnya sebagai manusia yang "berpikir dan mengambil
peringatan dari apa yang mereka pikirkan".
Hal-hal Yang
Hendaknya Dipikirkan
Sejak awal, kami telah menekankan pentingnya berpikir, manfaat-manfaatnya
bagi manusia dan sarana yang membedakan manusia dari makhluk lain. Kami telah
menyebutkan pula sebab-sebab yang menghalangi manusia dari berpikir. Semua ini
mempunyai tujuan utama mendorong manusia untuk berpikir dan membantu mereka
mengetahui tujuan penciptaan dirinya; serta agar manusia mengagungkan ilmu dan
kekuasaan Allah yang tak terbatas.
Di halaman-halaman berikutnya, kami akan mencoba menjelaskan bagaimana
orang yang beriman kepada Allah berpikir tentang segala sesuatu yang dijumpainya
sepanjang hari dan mendapatkan pelajaran dari peristiwa-peristiwa yang ia
saksikan; bagaimana ia seharusnya bersyukur dan menjadi semakin dekat kepada
Allah setelah menyaksikan keindahan dan ilmu Allah di segala sesuatu.
Sudah pasti apa yang disebutkan di sini hanya mencakup sebagian kecil dari
kapasitas berpikir seorang manusia. Manusia memiliki kemampuan untuk setiap
saat (dan bukan setiap jam, menit atau detik, tapi satuan waktu yang lebih
kecil dari itu, yakni setiap saat) dalam hidupnya. Ruang lingkup berpikir
manusia sedemikian luasnya sehingga tidak mungkin untuk dibatasi. Oleh karena
itu, uraian di bawah ini bertujuan untuk sekedar membukakan pintu bagi mereka
yang belum menggunakan sarana berpikir mereka sebagaimana mestinya.
Perlu diingat bahwa hanya mereka yang berpikir secara mendalam lah yang
mampu memahami dan berada pada posisi lebih baik dibandingkan makhluk lain.
Mereka yang tidak dapat melihat keajaiban dari peristiwa-peristiwa di
sekitarnya dan tidak dapat memanfaatkan akal mereka untuk bepikir adalah
sebagaimana diceritakan dalam firman Allah berikut:
"Dan perumpamaan (orang-orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah
seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain
panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu)
mereka tidak mengerti." (QS. Al-Baqarah, 2: 171)
"…
Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat
Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat
(tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak
dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang
ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang
lalai." (QS. Al-A’raaf, 7: 179)
"Atau
apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka
itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat
jalannya (dari binatang ternak itu)." (QS. Al-Furqaan, 25: 44)
Hanya
mereka yang mau berpikir yang mampu melihat dan kemudian memahami tanda-tanda
kebesaran Allah, serta keajaiban dari obyek dan peristiwa-peristiwa yang Allah
ciptakan. Mereka mampu mengambil sebuah kesimpulan berharga dari setiap hal,
besar ataupun kecil, yang mereka saksikan di sekeliling mereka.
Ketika
seseorang bangun dari tidurnya di pagi hari…
Tidak
diperlukan kondisi khusus bagi seseorang untuk memulai berpikir. Bahkan bagi
orang yang baru saja bangun tidur di pagi hari pun terdapat banyak sekali
hal-hal yang dapat mendorongnya berpikir.
Terpampang
sebuah hari yang panjang dihadapan seseorang yang baru saja bangun dari
pembaringannya di pagi hari. Sebuah hari dimana rasa capai atau kantuk seakan
telah sirna. Ia siap untuk memulai harinya. Ketika berpikir akan hal ini, ia teringat sebuah firman Allah:
"Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur
untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha." (QS.
Al-Furqaan, 25: 47)
Setelah
membasuh muka dan mandi, ia merasa benar-benar terjaga dan berada dalam
kesadarannya secara penuh. Sekarang ia siap
untuk berpikir tentang berbagai persoalan yang bermanfaat untuknya. Banyak hal
lain yang lebih penting untuk dipikirkan dari sekedar memikirkan makanan apa
yang dipunyainya untuk sarapan pagi atau pukul berapa ia harus berangkat dari
rumah. Dan pertama kali ia harus memikirkan tentang hal yang lebih penting ini.
Pertama-tama, bagaimana ia mampu bangun di pagi hari adalah sebuah keajaiban
yang luar biasa. Kendatipun telah kehilangan kesadaran sama sekali sewaktu
tidur, namun di keesokan harinya ia kembali lagi kepada kesadaran dan
kepribadiannya. Jantungnya berdetak, ia dapat bernapas, berbicara dan melihat.
Padahal di saat ia pergi tidur, tidak ada jaminan bahwa semua hal ini akan
kembali seperti sediakala di pagi harinya. Tidak pula ia mengalami musibah
apapun malam itu. Misalnya, kealpaan tetangga yang tinggal di sebelah rumah
dapat menyebabkan kebocoran gas yang dapat meledak dan membangunkannya malam
itu. Sebuah bencana alam yang dapat merenggut nyawanya dapat saja terjadi di
daerah tempat tinggalnya.
Ia mungkin saja mengalami masalah dengan fisiknya. Sebagai contoh, bisa
saja ia bangun tidur dengan rasa sakit yang luar biasa pada ginjal atau
kepalanya. Namun tak satupun ini terjadi dan ia bangun tidur dalam keadaan
selamat dan sehat. Memikirkan yang demikian mendorongnya untuk berterima kasih
kepada Allah atas kasih sayang dan penjagaan yang diberikan-Nya.
Memulai hari yang baru dengan kesehatan yang prima memiliki makna bahwa
Allah kembali memberikan seseorang sebuah kesempatan yang dapat dipergunakannya
untuk mendapatkan keberuntungan yang lebih baik di akhirat.
Ingat akan semua ini, maka sikap yang paling sesuai adalah menghabiskan waktu
di hari itu dengan cara yang diridhai Allah. Sebelum segala sesuatu yang lain,
seseorang pertama kali hendaknya merencanakan dan sibuk memikirkan hal-hal
semacam ini. Titik awal dalam mendapatkan keridhaan Allah adalah dengan memohon
kepada Allah agar memudahkannya dalam mengatasi masalah ini. Doa Nabi Sulaiman
adalah tauladan yang baik bagi orang-orang yang beriman:
"Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri ni'mat Mu yang
telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk
mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu
ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh" (QS. An-Naml,
27 : 19)
Bagaimana
kelemahan manusia mendorong
seseorang untuk berpikir?
Tubuh manusia yang demikian lemah ketika baru saja bangun dari tidur dapat
mendorong manusia untuk berpikir: setiap pagi ia harus membasuh muka dan
menggosok gigi. Sadar akan hal ini, ia pun merenungkan tentang
kelemahan-kelemahannya yang lain. Keharusannya untuk mandi setiap hari, penampilannya
yang akan terlihat mengerikan jika tubuhnya tidak ditutupi oleh kulit ari, dan
ketidakmampuannya menahan rasa kantuk, lapar dan dahaga, semuanya adalah
bukti-bukti tentang kelemahan dirinya.
Bagi orang yang telah berusia lanjut, bayangan dirinya di dalam cermin
dapat memunculkan beragam pikiran dalam benaknya. Ketika menginjak usia dua
dekade dari masa hidupnya, tanda-tanda proses penuaan telah terlihat di
wajahya. Di usia yang ketigapuluhan, lipatan-lipatan kulit mulai kelihatan di
bawah kelopak mata dan di sekitar mulutnya, kulitnya tidak lagi mulus
sebagaimana sebelumnya, perubahan bentuk fisik terlihat di sebagian besar
tubuhnya. Ketika memasuki usia yang semakin senja, rambutnya memutih dan
tangannya menjadi rapuh.
Bagi orang yang berpikir tentang hal ini, usia senja adalah peristiwa yang
paling nyata yang menunjukkan sifat fana dari kehidupan dunia dan mencegahnya
dari kecintaan dan kerakusan akan dunia. Orang yang memasuki usia tua memahami
bahwa detik-detik menuju kematian telah dekat. Jasadnya mengalami proses
penuaan dan sedang dalam proses meninggalkan dunia ini. Tubuhnya sedikit demi
sedikit mulai melemah kendatipun ruhnya tidaklah berubah menjadi tua. Sebagian
besar manusia sangat terpukau oleh ketampanan atau merasa rendah dikarenakan keburukan
wajah mereka semasa masih muda. Pada umumnya, manusia yang dahulunya berwajah
tampan ataupun cantik bersikap arogan, sebaliknya yang di masa lalu berwajah
tidak menarik merasa rendah diri dan tidak bahagia. Proses penuaan adalah bukti
nyata yang menunjukkan sifat sementara dari kecantikan atau keburukan
penampilan seseorang. Sehingga dapat diterima dan masuk akal jika yang dinilai
dan dibalas oleh Allah adalah akhlaq baik beserta komitmen yang diperlihatkan
seseorang kepada Allah.
Setiap saat ketika menghadapi segala kelemahannya manusia berpikir bahwa
satu-satunya Zat Yang Maha Sempurna dan Maha Besar serta jauh dari segala
ketidaksempurnaan adalah Allah, dan iapun mengagungkan kebesaran Allah. Allah
menciptakan setiap kelemahan manusia dengan sebuah tujuan ataupun makna.
Termasuk dalam tujuan ini adalah agar manusia tidak terlalu cinta kepada
kehidupan dunia, dan tidak terpedaya dengan segala yang mereka punyai dalam
kehidupan dunia. Seseorang yang mampu memahami hal ini dengan berpikir akan
mendambakan agar Allah menciptakan dirinya di akhirat kelak bebas dari segala
kelemahan.
Segala kelemahan manusia mengingatkan akan satu hal yang menarik untuk
direnungkan: tanaman mawar yang muncul dan tumbuh dari tanah yang hitam
ternyata memiliki bau yang demikian harum. Sebaliknya, bau yang sangat tidak
sedap muncul dari orang yang tidak merawat tubuhnya. Khususnya bagi mereka yang
sombong dan membanggakan diri, ini adalah sesuatu yang seharusnya mereka
pikirkan dan ambil pelajaran darinya.
Bagaimana beberapa karakteristik tubuh manusia
membuat anda berpikir?
Ketika melihat diri sendiri di dalam cermin, seseorang berpikir tentang
berbagai hal yang sebelumnya tak pernah muncul dalam benaknya. Sebagai contoh:
bulu mata, alis, tulang belulang dan gigi-giginya tidak tumbuh memanjang terus
menerus. Dengan kata lain, di bagian tubuh dimana pertumbuhan anggota badan
yang terus menerus akan menjadi sesuatu yang menyusahkan dan menghalangi
pandangannya, maka anggota tubuh tersebut berhenti tumbuh. Sebaliknya, rambut
yang kelihatan indah jika tumbuh memanjang, tidak berhenti tumbuh. Disamping
itu, ada keseimbangan yang sempurna dalam pertumbuhan tulang-belulang. Misalnya
tulang anggota bagian atas tidak akan tumbuh memanjang begitu saja sehingga
menyebabkan badan kelihatan lebih pendek. Semua tulang ini berhenti pada saat
tertentu seakan-akan tiap-tiap tulang tersebut tahu seberapa panjang mereka
harus tumbuh.
Sudah barang tentu, semua yang telah disebutkan di sini terjadi akibat dari
reaksi-reaksi fisika dan kimia yang terjadi dalam tubuh. Orang yang merenungkan
hal ini akan juga bertanya-tanya bagaimana reaksi-reaksi ini terjadi. Siapa
yang memasukkan hormon-hormon dan enzim-enzim yang bertanggung jawab atas
pertumbuhan ke dalam tubuh sesuai dengan dosis yang dibutuhkan? Dan siapakah
yang mengontrol kadar dan waktu sekresi dari hormon dan enzim tersebut?
Tidak dapat dipungkiri bahwa mustahil untuk mengatakan bahwa ini semua
terjadi secara kebetulan. Tidaklah mungkin sel-sel atau atom-atom pembentuk
manusia yang tidak mempunyai kesadaran tersebut melakukan hal yang demikian
dengan sendirinya. Ini adalah bukti bahwa fenomena tersebut terjadi karena
kekuasaan Allah yang menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
Ketika dalam perjalanan…
Setelah bangun tidur dan bersiap-siap di pagi hari, orang-orang kemudian
berangkat ke kantor, sekolah atau melakukan pekerjaan mereka di luar rumah.
Bagi orang yang beriman, keberangkatan ini adalah awal dari melakukan amal
kebaikan yang mendatangkan ridha Allah. Ketika meninggalkan rumah dan bepergian
ke luar, seseorang akan menjumpai banyak hal yang dapat ia pikirkan, misalnya
ribuan manusia, kendaraan, pohon, besar dan kecil, dan beragam hal yang
terdapat di banyak tempat. Dalam hal ini, pandangan orang yang beriman sudah
jelas, yakni bahwa ia berusaha untuk mendapatkan sebanyak mungkin manfaat dari
yang ia jumpai di sekelilingnya. Ia memikirkan tentang sebab-sebab dari
peristiwa-peristiwa yang ada. Karena apa yang sedang ia saksikan terjadi dengan
pengetahuan dan kehendak Allah, maka pasti ada sebuah makna di balik peristiwa
atau pemandanga itu. Karena Allah lah yang memampukannya untuk pergi ke luar
rumah serta meletakkan semua pemandangan ini di depan matanya, maka sudah pasti
dari pemandangan-pemandangan tersebut ada yang mesti dilihat dan dipikirkan.
Sejak bangun tidur, ia bersyukur kepada Allah yang telah memberinya umur satu
hari lagi di dunia yang dapat digunakannya sebagai modal untuk mendapatkan
pahala dari Allah. Kini, ia tengah memulai perjalanan yang dapat mendatangkan
pahala baginya. Menyadari hal ini, ia teringat akan firman Allah: "Dan
Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan", (QS. An-Naba’, 78 :11).
Berpedomankan ayat tersebut, ia membuat rencana tentang bagaimana menghabiskan
waktunya di siang hari dengan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang tidak hanya
bermanfaat untuk orang lain akan tetapi juga mendatangkan ridha Allah.
Ketika berada dalam mobilnya atau di atas kendaraan apapun dengan pola
pikir yang demikian, ia pun kembali bersyukur kepada Allah. Tidak menjadi
masalah, betapapun jauhnya jarak perjalanan yang harus ia tempuh, ia masih
memiliki sarana untuk pergi ke sana. Untuk memudahkan manusia, Allah telah
menciptakan beragam sarana transportasi untuk membantu manusia dalam melakukan
perjalanan. Bahkan kemajuan teknologi saat sekarang telah menyediakan sarana
transportasi baru berupa mobil, kereta api, pesawat terbang, kapal laut,
helikopter, bus…Ketika merenungkan hal ini, seseorang akan kembali teringat:
Allah lah yang telah menciptakan teknologi untuk membantu manusia.
Setiap hari, para ilmuwan membuat penemuan-penemuan dan inovasi-inovasi
baru yang dapat memudahkan hidup kita. Mereka menghasilkan ini semua melalui
sarana yang diciptakan Allah di bumi. Seseorang yang memikirkan tentang masalah
tersebut akan menikmati perjalanannya sambil bersyukur kepada Allah atas
kemudahan yang diberikan kepadanya.
Dalam perjalanan menuju tempat tujuan, ia menyaksikan tumpukan sampah
dengan bau yang tak sedap, tempat-tempat kumuh di sepanjang jalan. Hal ini
menimbulkan beragam pikiran dalam benaknya:
Ketika masih berada di dunia, Allah telah memberikan informasi kepada kita
yang membantu kita memperoleh gambaran tentang surga dan neraka; atau
mengira-ngira keadaan kedua tempat ini dengan menggunakan perbandingan.
Tumpukan sampah, bau yang tidak sedap dan daerah-daerah kumuh dapat menimbulkan
stres atau tekanan dalam jiwa seseorang. Tak seorangpun ingin tinggal di tempat
tersebut. Keadaan ini mengingatkan seseorang tentang neraka dan ayat-ayat yang
mengisahkan neraka. Di banyak ayat-ayat Al-Qur'an Allah telah menceritakan
segala sesuatu yang tidak menyenangkan, gelap serta menjijikkan tentang neraka:
Dan golongan kiri, siapakah golongan kiri itu?
Dalam (siksaan) angin yang amat panas, dan air panas yang mendidih, dan
dalam naungan asap yang hitam.
Tidak sejuk dan tidak menyenangkan. (QS. Al-Waaqi’ah,
56:41-44)
"Dan
apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan
dibelenggu, mereka di sana mengharapkan kebinasaan. (Akan dikatakan kepada
mereka): "Jangan kamu sekalian mengharapkan satu kebinasaan, melainkan
harapkanlah kebinasaan yang banyak" (QS. Al-Furqaan, 25:13-14)
Dengan
memikirkan ayat-ayat di atas, orang tersebut berdoa agar Allah menjauhkannya
dari siksa neraka dan mengampuni segala kesalahannya.
Sebaliknya,
seseorang yang tidak menggunakan cara berpikir yang demikian akan menghabiskan
waktunya dengan menggerutu, kesal dan selalu mencari kambing hitam dari setiap
permasalahan. Ia marah sekali kepada orang-orang yang menumpuk sampah tersebut
dan pihak pemerintahan daerah setempat yang terlambat untuk mengumpulkan dan
membuangnya. Sepanjang hari pikirannya disibukkan dengan hal-hal seperti: jalan
raya yang penuh dengan lubang; orang-orang yang menyebabkan lalu lintas macet; badannya
yang basah kuyup kehujanan akibat ulah badan meteorologi yang salah dalam
memperkirakan cuaca; cemoohan kasar dari bossnya, dan lain sebagainya. Namun,
pikiran yang sia-sia ini tidaklah bermanfaat dalam kehidupan akhiratnya nanti.
Seseorang mungkin berhenti sejenak kemudian berpikir apakah ia seharusnya
menghiraukan banyak hal. Sungguh, banyak orang mengatakan bahwa alasan utama
yang mencegah mereka dari berpikir adalah segala kesibukan yang mengharuskan
mereka bekerja keras terus-menerus di dunia. Mereka berdalih bahwa mereka tidak
mampu berpikir karena sibuk dengan masalah pangan, perumahan dan kesehatan. Akan tetapi ini hanyalah sekedar alasan untuk mengelak. Tanggung jawab dan
kondisi tersebut tidak ada hubungannya dengan berpikir sebagaimana yang
dikehendaki di sini. Seseorang yang berusaha untuk berpikir dalam rangka
mencari ridha Allah akan mendapatkan pertolongan dari Allah. Ia akan melihat
bahwa, seiring dengan bergantinya hari, beragam persoalan yang biasanya menjadi
masalah baginya satu demi satu terselesaikan; hingga ia dapat meluangkan waktu
untuk berpikir dan berpikir lagi. Hanya orang-orang yang beriman sajalah yang
sadar, paham dan mengalami hal yang demikian.
Bagaimana
dunia yang berwarna-warni mendorong
seseorang
berpikir?
Masih dalam
perjalanannya, ia terus berusaha melihat keajaiban dari ayat-ayat ataupun
ciptaan Allah di sekitarnya, dan memuji Allah ketika memikirkan ini semua.
Ketika melihat ke luar melalui jendela mobilnya, ia menyaksikan dunia yang
penuh dengan beragam warna. Lalu ia pun berpikir: "Bagaimana segala
sesuatu akan terlihat seandainya dunia ini tidak berwarna?"
Lihatlah
gambar-gambar di bawah dan anda pun mulai berpikir. Apakah kenikmatan yang kita
rasakan dari memandang laut, pegunungan atau bunga yang tidak berwarna
sebanding dengan sebagaimana yang anda lihat sekarang? Apakah pemandangan
langit, buah, kupu-kupu, pakaian dan wajah-wajah manusia sebagaimana yang
terlihat oleh anda sekarang memberikan kepuasan? Adalah nikmat dari Tuhan bahwa
kita hidup di sebuah dunia yang cerah ceria dan memiliki beragam warna. Setiap
warna yang kita lihat di alam, keseimbangan yang sempurna dari warna-warna
makhluk hidup, semuanya adalah tanda-tanda tentang karya cipta dan seni khas
Allah yang tak tertandingi. Beragam warna dari bunga atau burung; dan
keharmonisan atau corak yang anggun antara warna-warna yang ada; bahwa tak
satupun warna di alam ini yang mengganggu penglihatan kita; warna lautan,
langit, pohon-pohon yang demikian serasi sehingga menimbulkan kedamaian dan
tidak melelahkan mata kita, semua ini menunjukkan kesempurnaan ciptaan Allah.
Dengan merenungkan beberapa fenomena tersebut, seseorang akan paham bahwa
setiap sesuatu yang ia lihat di sekelilingnya adalah hasil dari ilmu dan
kekuasaan Allah yang tak terbatas dan absolut. Setelah sadar akan segala nikmat
yang Allah anugerahkan ini, ia pun menjadi hamba yang takut kepada Allah dan
memohon perlindungan kepada-Nya agar tidak termasuk dalam golongan orang-orang
yang tidak bersyukur. Dalam Al-Qur'an, Allah mengisahkan fenomena warna-warna,
dan berfirman bahwa hanya mereka yang memiliki pengetahuan, yakni mereka yang
menyelami lebih jauh dengan berpikir dan menarik kesimpulan serta pelajaran
dari fenomena ini lah yang memiliki rasa takut kepada Allah:
"Tidakkah
kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan
dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan di antara
gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya
dan ada (pula) yang hitam pekat. Dan demikian (pula) di antara manusia,
binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam
warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha
Pengampun." (QS. Faathir, 35: 27-28).
Bagaimana
sebuah mobil jenazah yang melintas di
jalan
mendorong seseorang untuk berpikir?
Seseorang
yang sedang bergegas menuju ke suatu tempat secara tiba-tiba berpapasan dengan
mobil jenazah. Sungguh ini adalah kesempatan yang baik untuk berhenti sejenak
dan menenangkan diri. Pemandangan yang ia temui mengingatkannya akan kematian.
Suatu hari ia juga akan berada di mobil jenazah itu. Tiada keraguan tentang
terhadapnya, tak peduli seberapa besar usaha untuk menghindarinya, cepat atau
lambat kematian pasti akan datang menghampirinya. Tak peduli apakah ia sedang
berada di tempat tidurnya, ketika dalam perjalanan, atau ketika berlibur, ia
pasti akan meninggalkan dunia ini. Kematian adalah kenyataan yang tidak dapat
dihindari.
Di saat yang demikian, seorang mukmin teringat akan ayat Allah berikut:
"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada
Kami kamu dikembalikan. Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal
yang saleh, sesungguhnya akan Kami tempatkan mereka pada tempat-tempat yang
tinggi di dalam syurga, yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal
di dalamnya. Itulah sebaik-baik pembalasan bagi orang-orang yang beramal,
(yaitu) yang bersabar dan bertawakkal kepada Tuhannya." (QS. Al-Ankabuut,
29: 57-59).
Keyakinan seseorang bahwa jasadnya akan juga dimasukkan dalam peti mati,
ditimbun tanah oleh kerabatnya, namanya akan diukir diatas kuburan, akan
menghilangkan kecintaannya kepada dunia. Seseorang yang dengan ikhlas dan
secara sadar berpikir tentang hal ini paham bahwa tidaklah masuk akal untuk
mengklaim kepemilikan tubuh yang suatu hari akan membusuk di dalam tanah.
Dalam ayat di atas, Allah memberikan kabar gembira berupa surga setelah
kematian kepada mereka yang sabar dan bertawakal kepada Allah. Oleh karenanya,
dengan berpikir bahwa suatu hari ia akan mati, seorang mukmin akan berusaha
menjalani hidup dengan akhlaq yang baik sebagaimana yang diperintahkan Allah
untuk meraih surga. Setiap saat ia teringat akan dekatnya kematian, tekadnya
untuk mendapatkan surga semakin menguat dan mendorongnya untuk senantiasa
berusaha bertingkah laku sesuai dengan akhlaqnya yang semakin lama semakin
baik.
Sebaliknya, orang-orang yang condong memikirkan hal-hal yang lain, dan
menghabiskan hidup dengan angan-angan kosong, tidak berpikir bahwa suatu hari
hal yang sama pasti akan menimpa mereka meskipun mereka berpapasan dengan mobil
jenazah, setiap hari melewati kuburan atau bahkan salah satu orang yang paling
dicintai meninggal dunia di samping mereka sendiri.
Di siang hari…
Ketika menyaksikan segala peristiwa yang ditemuinya sepanjang hari, orang
beriman selalu berpikir tentang tanda-tanda kebesaran Allah dan berusaha untuk
memahami makna-makna yang terkandung dalam peristiwa-peristiwa tersebut.
Ia menanggapi setiap kebaikan ataupun malapetaka sebagai sesuatu yang
memiliki kebaikan sebagaimana dikehendaki Allah. Di mana saja ia berada, di
sekolah, di tempat kerja ataupun di pasar, dan dengan berprasangka dan berpikir
bahwa Allahlah yang menciptakan setiap sesuatu, ia selalu berusaha memahami
keindahan-keindahan dan makna tersembunyi di balik peristiwa-peristiwa yang diciptakan-Nya
untuk kemudian menjalani hidup dengan mematuhi ayat-ayat Allah. Sikap orang
mukmin ini digambarkan dalam Al-Qur'an:
"Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh
jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari)
membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan
penglihatan menjadi goncang. (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya
Allah memberikan balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa
yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada
mereka. Dan Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas." (QS. An-Nuur, 24: 37-38)
Bagaimana orang berpikir ketika menghadapi
kesulitan-kesulitan yang ditemuinya dalam pekerjaan?
Manusia mungkin menghadapi berbagai macam kesulitan selama satu hari penuh.
Namun apapun kesulitan tersebut, hendaklah ia berkeyakinan kepada Allah dan
berpikir bahwa "Allah menguji kita dengan sesuatu yang kita kerjakan dan
pikirkan dalam hidup di dunia. Ini adalah kenyataan yang sangat penting yang
seharusnya tidak pernah kita lupakan sekejap pun. Oleh karenanya, ketika
menemui kesulitan dalam setiap hal yang kita lakukan atau pikirkan, sehingga
tidak berjalan sebagaimana mestinya, kita hendaknya selalu ingat bahwa semua
kesulitan ini telah dihadapkan oleh Allah kepada kita untuk menguji perbuatan
kita."
Pikiran-pikiran yang muncul dalam benak seseorang ini berlaku untuk semua
peristiwa, besar atau kecil, yang ia jumpai sepanjang hari. Sebagai contoh,
seseorang membayar lebih tanpa sengaja akibat salah pengertian atau
kecerobohan; sebuah file yang telah diselesaikan dalam waktu berjam-jam dengan
menggunakan komputer dapat hilang begitu saja akibat terputusnya aliran
listrik; seorang pelajar gagal dalam ujian universitas meskipun ia telah
belajar secara sungguh-sungguh; seseorang terpaksa menghabiskan harinya
menunggu dalam antrian untuk mendapatkan pekerjaan akibat birokrasi yang
terlalu rumit; dokumen yang hilang dapat menjadi masalah yang menyebabkan
pekerjaan seseorang tidak karuan; seseorang ketinggalan pesawat, atau bus
ketika hendak pergi ke suatu tujuan yang mesti dihadirinya seawal mungkin…Ada
banyak sekali peristiwa-peristiwa yang dialami seseorang dalam hidup yang
dianggapnya merupakan sebuah kesulitan atau "masalah".
Ketika mengalami semua peristiwa tersebut, orang yang beriman akan berpikir
dan ingat bahwa Allah menguji perilaku dan kesabarannya; sehingga tidaklah
masuk akal bagi orang yang yakin bahwa ia akan mati dan mempertanggung jawabkan
perbuatannya di akhirat terpengaruh dengan hal-hal serupa dan menghabiskan
waktunya dengan perasaan takut dan khawatir akan hal tersebut. Ia paham bahwa
ada sebuah kebaikan di balik semua peristiwa ini. Ia tak pernah
mengatakan "Aduh" terhadap kejadian apapun. Ia berdoa kepada Allah
untuk memudahkan pekerjaan-pekerjaannya dan menjadikan segala sesuatunya
sebagai kebaikan.
Ketika
kesulitan tersebut telah berlalu dengan datangnya kemudahan, ia berpikir bahwa
ini adalah jawaban dari doanya kepada Allah, Allah mendengarkan dan, kemudian,
mengabulkan doa-doanya. Pada akhirnya ia pun bersyukur kepada Allah.
Ketika
menjalani hari dengan prinsip berpikir seperti ini, maka seseorang tak akan
pernah putus harapan, merasa khawatir, menyesal ataupun menderita terhadap
apapun yang dialaminya. Ia tahu bahwa Allah telah menciptakan semua ini untuk
sebuah kebaikan dan keberkahan. Tidak hanya itu, ia berpikir yang demikian
tidak hanya ketika terjadi peristiwa-peristiwa besar yang menimpanya, namun
juga di semua hal yang rumit, besar ataupun kecil, yang ia jumpai dalam
kehidupan sehari-hari.
Coba
pikirkan, ada orang yang tidak mendapati urusannya yang penting terselesaikan
sebagaimana yang ia kehendaki. Ataupun orang yang ketika hampir saja meraih
tujuan, dihadapkan pada sebuah masalah yang serius. Orang ini mendadak menjadi sangat kecewa, merasa khawatir dan tertekan.
Pendek kata, dirinya dipenuhi dengan pikiran-pikiran buruk. Sebaliknya,
seseorang yag berpikir bahwa ada sesuatu kebaikan pada semua hal, akan berusaha
menemukan makna-makna tersembunyi yang Allah tunjukkan padanya melalui
peristiwa tersebut. Ia berpikir bahwa mungkin Allah telah melakukan ini semua
untuk memberinya peringatan agar lebih berhati-hati dan serius dalam menangani
masalah. Dengan demikian, ia pun kembali melakukan persiapan-persiapan yang
lebih matang, serta bersyukur kepada Allah sambil mengatakan "mungkin ini
membantu mencegah timbulnya malapetaka yang lebih besar lagi".
Seseorang yang ketinggalan bus ketika hendak menuju suatu tempat, berpikir:
"mungkin keterlambatan dan ketertinggalan saya dari bus tersebut telah
menyelamatkan saya dari kecelakaan atau bahaya yang lain". Ia berpikir
lagi: "mungkin masih banyak lagi hikmah-hikmah tersembunyi yang
serupa". Banyak sekali contoh-contoh semisal yang dapat ditemukan dalam
kehidupan manusia. Yang paling penting adalah rencana-rencana seseorang tidak
harus selalu terlaksana sesuai dengan yang ia kehendaki. Secara mendadak ia
mungkin mendapati dirinya berada dalam situasi yang sangat berbeda dari apa
yang ia rencanakan. Dalam kondisi yang demikian, seseorang yang berkepribadian
dan berperilaku secara tenang serta senantiasa mencari kebaikan dari sebuah
peristiwa akan memperoleh keberuntungan. Hal ini dikarenakan Allah berfirman
dalam ayat-Nya:
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan
boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah
mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah,
2: 216)
Sebagaimana
firman Allah di atas, kita tidak mengetahui tetapi Allah mengetahui. Karena
itu, hanya Allahlah yang mengetahui apa yang baik dan yang tidak baik untuk
kita. Segala yang menimpa manusia hanyalah agar manusia mengambil Allah Yang
Maha Pengasih dan Maha Penyayang sebagai tempat mengadu dan meminta
pertolongan, serta menyerahkan diri kepada Allah sepenuhnya.
Hal-hal yang terpikirkan ketika sedang mengerjakan
sesuatu…
Manakala sedang mengerjakan sesuatu, seharusnya seseorang tidak membiarkan
akalnya kosong, akan tetapi senantiasa memikirkan segala sesuatu yang baik.
Otak manusia memiliki kemampuan untuk berpikir lebih dari satu hal pada saat
yang bersamaan. Seseorang yang sedang mengendarai mobil, membersihkan rumah,
bekerja mencari nafkah, berjalan di jalan raya, pada saat yang sama dapat
berpikir hal-hal yang baik.
Ketika membersihkan rumah, ia bersyukur kepada Allah yang telah memberinya
sarana seperti air dan detergen. Sadar bahwa Allah menyukai kebersihan dan
orang yang membersihkan diri, ia memandang pekerjaan yang sedang ia lakukan
sebagai bentuk ibadah sehingga dengan melakukan hal tersebut ia mengharapkan
ridha Allah. Di samping itu, ia merasa bahagia karena telah mempersiapkan
tempat yang nyaman untuk orang lain dengan membersihkan tempat tinggalnya.
Seseorang yang tengah mengerjakan sesuatu, terus-menerus berdoa kepada
Allah dan memohon agar dimudahkan dalam pekerjaannya karena yakin bahwa ia
tidak dapat melakukan suatu pekerjaan dengan baik tanpa pertolongan Allah. Kita
mengetahui di dalam Al-Qur'an bahwa para Nabi memberikan contoh kepada kita
dengan terus menerus menghadapkan diri mereka kepada Allah dalam kesendirian,
dan selalu mengingat Allah ketika mengerjakan sesuatu. Diantara contoh ini adalah Nabi Musa. Beliau menolong dua orang wanita yang
ditemuinya dalam perjalanan. Setelah membantu memberikan minum untuk binatang
gembalaan mereka, beliau berdoa kepada Allah:
"Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Madyan ia menjumpai di
sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di
belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya).
Musa berkata: "Apakah maksudmu (dengan berbuat
begitu)?" Kedua wanita itu menjawab: "Kami tidak dapat meminumkan
(ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya),
sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya". Maka Musa
memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke
tempat yang teduh lalu berdo’a: "Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan
sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku". (QS.
Al-Qashas, 28: 23-24)
Contoh
lain yang kita temui dalam Al-Qur'an yang berkenaan dengan masalah ini adalah
Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il. Allah menceritakan bahwa kedua Nabi ini
memikirkan kemaslahatan orang-orang mukmin yang lain pada saat keduanya sedang
melaksanakan suatu pekerjaan. Mereka berdoa kepada-Nya sehubungan dengan
pekerjaan yang sedang mereka lakukan:
"Dan
(ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama
Ismail (seraya berdoa): "Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan
kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui".
Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan
(jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan
tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan
terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi
Maha Penyayang. Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan
mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan
kepada mereka Al Kitab (Al Qur'an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan
mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana." (QS.
Al-Baqarah, 2: 127-129)
Bagaimana
sarang laba-laba mendorong
seseorang untuk berpikir?
Banyak hal yang dapat dipikirkan oleh seseorang yang menghabiskan harinya
dalam rumah. Ketika sedang membersihkan rumah, ia menjumpai seekor laba-laba
yang merajut sarangnya di sebuah sudut rumah tersebut. Jika ia menyadari
keharusan untuk memikirkan binatang yang seringkali tidak dihiraukan orang ini,
ia akan mengerti bahwa pintu pengetahuan telah dibuka untuknya. Serangga kecil
yang sedang disaksikannya adalah sebuah keajaiban. Sarang laba-laba
tersebut memiliki bentuk simetri yang sempurna. Ia pun kagum terhadap seekor
laba-laba yang mungil tetapi memiliki kemampuan dalam membuat sebuah disain
sempurna yang sedemikian menakjubkan. Setelah itu ia membuat sebuah pengamatan
singkat hingga mendapatkan beberapa fakta lain: serat yang digunakan laba-laba
ternyata 30% lebih fleksibel dari serat karet dengan ketebalan yang sama. Serat
yang diproduksi oleh laba-laba ini memiliki mutu yang demikian tinggi sehingga
ditiru oleh manusia dalam pembuatan jaket anti peluru. Sungguh luar biasa,
sarang laba-laba yang dianggap sederhana oleh kebanyakan manusia, ternyata terbuat
dari bahan yang mutunya setara dengan bahan industri paling ideal di dunia.
Ketika
menyaksikan disain yang sempurna pada makhluk hidup di sekitarnya, manusia
terus menerus berpikir hingga kemudian mendorongnya untuk menemukan lebih
banyak fakta-fakta yang menakjubkan. Ketika mengamati sebuah lalat yang setiap
saat dijumpainya namun belum pernah diperhatikannya atau bahkan merasa sangat
terganggu dan ingin sekali membunuhnya, ia melihat bahwa serangga tersebut
memiliki kebiasaan membersihkan diri sampai bagian-bagian yang terkecil dari
tubuhnya sekalipun. Lalat tersebut seringkali hinggap di suatu tempat lalu
membersihkan tangan dan kakinya secara terpisah. Setelah itu lalat ini
membersihkan debu yang menempel pada sayap dan kepalanya dengan menggunakan
tangan dan kakinya secara menyeluruh. Lalat ini terus saja melakukan yang
demikian sampai yakin akan kebersihannya. Semua lalat dan serangga membersihkan
tubuh mereka dengan cara yang sama: dengan penuh perhatian dan ketelitian
sampai ke hal-hal yang kecil sekalipun. Ini menunjukkan adanya satu-satunya
Pencipta yang mengajarkan kepada mereka cara membersihkan diri mereka sendiri.
Ketika terbang, lalat mengepakkan sayapnya kurang lebih 500 kali setiap
detik. Padahal tak satupun mesin buatan manusia yang mampu memiliki kecepatan
yang luar biasa ini. Kalaulah ada, mesin itu akan hancur dan terbakar akibat
gaya gesek. Namun sayap, otot ataupun persendian lalat ini tidak mengalami
kerusakan. Lalat dapat terbang ke arahmanapun tanpa terpengaruh oleh arah dan
kecepatan angin. Dengan teknologi yang paling mutakhir sekalipun, manusia masih
belum mampu membuat mesin yang memiliki spesifikasi dan teknik terbang yang
luar biasa sebagaimana lalat. Begitulah, makhluk hidup yang cenderung
diremehkan dan tidak terlalu mendapat perhatian manusia, dapat melakukan
pekerjaan yang tak mampu dilakukan manusia. Tidak diragukan lagi, tidaklah
mungkin mengklaim bahwa seekor lalat melakukan ini semua semata-mata karena
kemampuan dan kecerdasan yang ia miliki. Semua karakteristik istimewa dari
lalat adalah kemampuan yang Allah berikan kepadanya
Segala sesuatu yang terlihat sepintas oleh manusia ternyata didalamnya
terdapat kehidupan, baik yang terlihat ataupun tidak. Tak satu sentimeter
persegi pun di bumi ini yang di dalamnya tidak terkandung kehidupan. Manusia,
tumbuh-tumbuhan dan hewan-hewan adalah makhluk yang mampu dilihat oleh manusia.
Namun, masih ada makhluk-makhluk lain yang tidak terlihat oleh manusia akan
tetapi manusia sadar akan keberadaannya. Misalnya rumah yang ia diami yang
penuh dengan makhluk-makhluk mikroskopis yang disebut "tungau".
Demikian pula halnya dengan udara yang ia hirup, di dalamnya mengandung virus
yang tak terhingga banyaknya, atau tanah kebunnya yang mengandung bakteri yang
sangat banyak.
Seseorang yang merenung tentang keanekaragaman yang luar biasa dari
kehidupan di bumi, akan mengetahui kesempurnaan makhluk-makhluk ini. Tiap
makhluk yang ia lihat adalah tanda-tanda keagungan karya seni ciptaan Allah,
demikian pula halnya dengan keajaiban luar biasa yang tersembunyi dalam
makhluk-makhluk mikroskopis tersebut. Virus, bakteri ataupun tungau yang tidak
terlihat oleh mata telanjang memiliki mekanisme tubuh yang unik. Habitat, cara
makan, sistim reproduksi dan pertahanan mereka semuanya diciptakan oleh Allah.
Seseorang yang memikirkan secara mendalam tentang fenomena ini teringat ayat
Allah:
"Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus)
rezkinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezki kepadanya dan kepadamu dan Dia
Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Ankabuut, 29: 60)
Bagaimana
penyakit mendorong seseorang
untuk
berpikir?
Manusia
adalah makhluk yang memiliki banyak kelemahan dan harus selalu terus-menerus
berusaha untuk mengatasi kelemahan tersebut. Adanya penyakit yang diderita manusia
adalah gambaran paling jelas tentang kelemahan tersebut. Oleh karenanya, ketika
seseorang atau sahabatnya jatuh sakit, ia hendaknya berpikir tentang makna yang
terkandung dari musibah ini. Ketika sedang berpikir, ia memahami bahwa flu yang
dianggap sebagai penyakit yang biasa pun memiliki pelajaran-pelajaran yang
darinya manusia dapat mengambil hikmah ataupun peringatan. Ketika terjangkiti
penyakit tersebut, ia memikirkan hal-hal seperti: pertama, penyebab utama flu
adalah virus yang teramat kecil untuk dilihat dengan mata telanjang. Akan
tetapi, makhluk yang kecil ini sudah cukup untuk membuat manusia yang bobotnya
60-70 kg menjadi kehilangan kekuatan, membuatnya sedemikian lemah sehingga tak
mampu berjalan ataupun berbicara sekalipun. Seringkali obat atau makanan yang
ia makan tidak membantu meringankan penderitaannya. Satu-satunya yang dapat ia
lakukan adalah beristirahat dan menunggu. Dalam tubuhnya, berlangsung sebuah
peperangan yang ia tak pernah mampu untuk campur tangan, dengan kata lain ia dibuat
lumpuh tak berdaya melawan organisme yang sangat kecil. Dalam keadaan yang
demikian, ia hendaknya mengingat ayat Allah:
"(Yaitu
Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku, dan Tuhanku,
Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah Yang
menyembuhkan aku, dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku
(kembali), dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat".
(Ibrahim
berdo'a): "Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke
dalam golongan orang-orang yang saleh". (QS. Asy-Syu‘araa, 26: 78-83)
Seseorang
yang terjangkiti penyakit apapun hendaknya membandingkan sikapnya ketika sehat
dan setelah pulih dari sakit, kemudian berpikir tentang hal tersebut.
Seharusnya ia menyadari keadaanya yang lemah ketika sakit, perasaan
ketergantungan kepada Allah yang sangat. Hal ini tercermin, misalnya, dalam
keikhlasan dan kekhusu’annya ketika berdoa kepada Allah menjelang dioperasi.
Sebaliknya,
ketika mengetahui orang lain sedang menderita sakit, ia hendaknya segera
bersyukur kepada Allah sambil berpikir tentang keadaannya yang sehat. Manakala
melihat orang yang cacat kaki, misalnya, orang beriman memikirkan bahwa kakinya
adalah nikmat yang sangat besar dan penting bagi dirinya. Ia memahami bahwa
kemampuannya untuk berjalan atau berlari ke manapun serta melakukan segala
sesuatu tanpa bantuan orang lain sejak bangun tidur di pagi hari adalah nikmat
dari Allah. Dengan membuat perbandingan seperti ini, ia akan lebih memahami
besarnya nikmat yang telah didapatkannya.
Bagaimana seseorang berpikir ketika bertemu dengan
orang
yang arogan, tidak sopan, suka menyinggung
perasaan orang lain dan berperangai buruk?
Ketika berada di kantor atau sekolah sepanjang hari, seseorang akan bertemu
dengan berbagai tipe manusia. Sebagian dari mereka mungkin tidak berakhlaq baik
dan tidak takut kepada Allah. Seorang mukmin yang bertemu dengan orang-orang
ini tidak akan terpengaruh oleh keadaan mereka, sebaliknya tetap istiqomah
dengan akhlaq luhurnya sebagaimana yang diajarkan Allah. Ia memahami bahwa
penyebab perilaku buruk mereka adalah ketiadaan rasa takut kepada Allah serta
ingkar kepada hari akhir. Gambaran berikut ini lalu muncul dalam benaknya:
Allah telah memperingatkan tentang siksa neraka dan memerintahkan manusia agar
memikirkan adzabnya yang kekal, sehingga manusia mau memperbaiki perilaku
mereka dalam kehidupan dunia, kembali kepada Allah dengan merendahkan diri dan melaksanakan
ajaran agama secara ikhlas. Seandainya seseorang menyadari bahwa ia sedang
berhadapan dengan ancaman yang sedemikian berat dan serius, ia pasti akan
melakukan segala sesuatu agar dapat meloloskan diri dari ancaman tersebut.
Sebaliknya mereka yang tidak memikirkannya, sehingga tidak memahami betapa
seriusnya ancaman tersebut, akan berperilaku seolah-olah tempat yang penuh
dengan bara dan siksaan yang dipersiapkan untuk mereka itu tidak lah ada.
Sadar akan kenyataan ini, beberapa hal penting lain terlintas dalam
pikirannya: ketika dikumpulkan di tepi jurang neraka, perilaku orang-orang yang
berperangai buruk tersebut akan berbeda sama sekali dengan perilaku mereka
ketika di dunia. Orang yang ketika masih hidup di dunia berperangai buruk,
tidak malu untuk bertindak yang semena-mena dan arogan akan memiliki ekspresi
muka, sikap dan cara berbicara yang tidak seperti biasanya pada hari
penghisaban, yakni ketika ia diseret ke depan jurang neraka dan terus menerus
disiksa.
Atau jika orang yang agresif, kasar dan seringkali melakukan tindak
kejahatan dan tidak memiliki rasa kemanusiaan dibawa ke tepi jurang neraka, ia
akan merasakan penyesalan yang abadi ketika melihat adzab neraka.
Seseorang selalu mengemukakan berbagai macam alasan untuk tidak menjalankan
agama dan tidak melaksanakan ibadah dalam hidupnya di dunia. Namun ia tidak
akan dapat mengatakan alasan-alasan tersebut ketika diperintah melaksanakan
sholat pada saat sedang menanti di depan gerbang neraka.
Orang yang takut kepada Allah tidak pernah melupakan kenyataan ini. Karena
senantiasa memikirkan siksa neraka, ia mengetahui mana perilaku, kata-kata yang
benar serta akhlaq yang baik. Dengan keyakinan yang kuat dan senantiasa
mengingat keberadaan neraka, ia selalu berbuat seolah-olah ia berada sangat
dekat dengan neraka, dan memikirkan bahwa ia akan dimintai pertanggungjawaban
atas segala sesuatu yang ia kerjakan.
Allah menyeru manusia untuk memikirkan neraka dan hari penghisaban:
"Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan
(dimukanya), begitu juga kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau
kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh; dan Allah memperingatkan
kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan Allah sangat
Penyayang kepada hamba-hamba-Nya". (QS. Aali ‘Imraan, 3: 30)
Ketika sedang makan…
"Allah lah yang menjadikan bumi bagi kamu sebagai tempat menetap dan
langit sebagai atap, dan membentuk kamu lalu membaguskan rupamu serta memberi
kamu rezki dengan sebahagian yang baik-baik. Yang demikian itu adalah Allah
Tuhanmu, Maha Agung Allah, Tuhan semesta alam." (QS. Ghaafir, 40:64)
Allah telah menyediakan untuk manusia berbagai jenis makanan dan minuman
yang baik, bersih dan lezat di dunia. Sudah barang tentu, semua ini adalah
bentuk kasih sayang Allah yang tak terhingga terhadap manusia. Meskipun manusia
mampu bertahan hidup hanya dengan satu jenis makanan dan minuman, akan tetapi
Allah telah menganugerahkan kepada mereka kenikmatan yang tak terhitung
jumlahnya dengan menciptakan beragam makanan: buah-buahan, sayur-sayuran dan
berbagai macam jenis daging…
Mengetahui bahwa segala kebaikan berasal dari Allah, orang yang beriman
akan memikirkan semua ini dan bersyukur kepada Allah setiap saat ketika duduk
di depan meja makan dan bersiap-siap menikmati hidangan.
Bagaimana
buah-buahan yang disajikan mendorong
seseorang untuk berpikir?
Dalam banyak ayat Al-Qur'an, disebutkan bahwa Allah telah memberi nikmat
kepada manusia dengan beraneka ragam buah-buahan yang disajikan kepada
seseorang ketika sedang makan. Di atas meja makan dihidangkan berbagai macam
sayur-sayuran yang sebelumnya tumbuh di atas tanah; dan makanan yang dihasilkan
dari hewan. Sesuai fitrahnya, manusia diciptakan untuk menikmati
makanan-makanan ini. Selain memiliki kelezatan yang berbeda-beda, pada saat
yang bersamaan makanan tersebut juga diperlukan untuk kelangsungan hidup
manusia. Marilah kita berpikir: apa yang terjadi seandainya makanan-makanan
yang penting untuk kehidupan manusia ini tidak memiliki rasa, atau mempunyai
rasa yang tidak sedap? Atau jika makanan-makanan ini berbahaya bagi tubuh kita
kendatipun rasanya enak….Atau seandainya terdapat hanya beberapa jenis makanan
yang dapat kita makan untuk kelangsungan hidup? Yang menyebabkan makanan dan
minuman yang dihidangkan di hadapan anda tidak berasa hambar adalah karena
kebaikan dan kasih sayang Allah kepada anda. Bahkan jika seseorang berpikir
tentang buah-buahan saja, ia akan mengetahui dan mengakui kebaikan Allah
kepadanya.
Ketika melihat beragam jenis buah-buahan di atas meja makan di hadapannya,
seseorang yang mempunyai nalar akan berpikir: tanaman yang tumbuh dari tanah
atau lumpur hitam akan tetapi menghasilkan buah-buahan dengan beragam warna dan
aroma, serta daging buah yang bersih dengan rasa yang sangat enak, adalah
nikmat yang sangat besar yang Allah berikan kepada manusia.
Pisang, tangerine, jeruk, melon, semangka serta semua buah-buahan yang
diciptakan beserta kulit pembungkus daging buah, memiliki kulit yang mampu
melindungi buah-buahan dari kebusukan dan kerusakan. Kulit pembungkus ini juga
berfungsi memelihara aroma buah. Segera setelah kulit ini dikupas dan dibuang,
daging buah tersebut perlahan-lahan berubah menjadi hitam dan rusak.
Ketika diamati satu persatu, buah-buahan tersebut kelihatan memiliki banyak
keunikan. Tangerine dan jeruk, misalnya, diciptakan dalam keadaan telah
bersekat-sekat. Seandainya jeruk dan tangerine memiliki bentuk yang utuh tanpa
sekat, seseorang akan merasa sulit untuk memakan buah-buahan yang banyak
mengandung air ini. Namun Allah telah menciptakannya dalam keadaan
tersekat-sekat sebagai kemudahan dan nikmat tambahan untuk manusia. Tidak perlu
disanksikan lagi, disain yang sangat indah, tanpa cacat, dan demikian sempurna
sehingga pas dengan kebutuhan adalah satu diantara karakteristik ciptaan Allah
Yang Maha Mengetahui.
Contoh lain adalah strawberi, buah dengan bentuk dan rasa yang sangat
khusus. Bentuk dan rupa permukaannya kelihatan seakan-akan buah strawberi
sengaja dibentuk dengan sangat hati-hati. Warna merah segar yang dihiasi dengan
dedaunan hijau ini hanyalah bagian yang amat kecil dari daya cipta Allah yang
tak tertandingi. Manisnya bau dan rasa, ketiadaan akan biji serta kulit
pembungkus buah sehingga mudah untuk dimakan, mengingatkan orang akan
buah-buahan surga. Buah, yang tanamannya tumbuh di atas tanah dan memiliki
warna yang sedemikian indah dan menawan, menunjukkan kepada kita tentang Tuhan
kita yang telah menciptakan buah tersebut tanpa ada bandingannya. Dia lah yang
telah mewujudkan Seni, Kebijaksanaan serta Ilmu-Nya pada segala sesuatu yang
Dia ciptakan.
Keberadaan buah-buahan yang beraneka ragam di setiap musim yang berbeda
adalah hal lain yang patut untuk direnungkan. Adalah sebuah nikmat dan kebaikan
dari Allah kepada manusia bahwa, sebagai contoh, ketika musim dingin dimana
manusia membutuhkan vitamin dalam jumlah besar, tersedia buah-buahan yang
banyak mengandung vitamin C seperti tangerine, jeruk dan grapefruit. Sebaliknya
di musim panas, buah-buahan semisal ceri, melon, semangka dan persik yang
melegakan dahaga begitu berlimpah.
Ketika kita memandang pohon dengan buah-buahnya yang bergelantungan di
dahan atau ketika tanaman tersebut sedang ditanam terdapat sebuah kenikmatan
tersendiri yang Allah berikan. Pemandangan ratusan buah-buahan di atas batang
pohon yang kering dan menempel kuat pada dahannya, yang di dalamnya mengandung
air dan sebagian diantaranya terlihat seakan-akan permukaan luar kulit buah
tersebut terpoles hingga mengkilat, adalah bukti bahwa setiap buah-buahan
tersebut telah diciptakan oleh Allah. Sebagai contoh, buah anggur terlihat
seolah-olah telah di letakkan pada ranting-ranting tanaman anggur satu demi
satu. Allah telah menciptakan buah-buahan tersebut penuh keunikan keunikan
tanpa ada duanya. Ketika masih berada di dahan tanaman, anggur dibentuk dan
ditampilkan sedemikian rupa agar menarik manusia. Dengan alasan ini, ketika
menggambarkan surga dalam Al-Qur'an: "Dan naungan (pohon-pohon surga
itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya."
(QS. Al-Insaan, 76:14), Allah menyatakan bahwa buah-buahan di surga mudah
dipetik.
Sudah pasti bahwa yang disebutkan disini hanyalah contoh-contoh yang
jumlahnya terbatas. Segala nikmat yang Allah ciptakan terlalu banyak untuk
dapat dihitung. Orang yang menyadari akan hal tersebut ketika berada di meja
makan akan teringat ayat Allah yang lain:
"Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat
menciptakan (apa-apa)? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran. Dan jika
kamu menghitung-hitung ni'mat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan
jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang." (QS. An-Nahl, 16: 17-18)
Bagaimana rasa dan bau mendorong seseorang berpikir?
Dengan senantiasa berpikir sebagaimana telah diuraikan di atas, manusia
akan lebih menyadari tentang keindahan dan ketelitian dalam ciptaan Allah.
Ketika merenung tentang semua ini, orang yang sadar akan berpikir bahwa
kebahagiaan yang mucul ketika sedang merasakan nikmat-nikmat yang Allah berikan
adalah sebuah kebaikan yang besar. Ia ingat bahwa indra pengecap dan penciuman
telah menolong kita merasakan berbagai keindahan di dunia. Tanpa memiliki indra
penciuman, kita tidak akan mampu menikmati keharuman sekuntum bunga mawar, buah-buahan
yang kita makan atau daging panggang sebagaimana yang kita rasakan saat ini.
Tanpa indra pengecap, kita tidak dapat merasakan rasa coklat yang khas, permen,
daging, strawberi dan rasa lezat yang lain.
Hendaknya tidak dilupakan bahwa mungkin saja kita hidup di dunia yang tidak
memiliki warna, rasa dan aroma. Dan jika Allah tidak memberikan segala
kenikmatan ini, kita tidak akan mendapatkannya dengan cara apapun. Namun Allah
telah memberikan nikmat yang tak berhingga kepada manusia dengan menciptakan
rasa dan bau juga sistim indera untuk merasakannya.
Ketika berjalan-jalan di taman….
Bagaimana keindahan alam mendorong seseorang berpikir?
Ketika melihat keindahan-keindahan di alam seseorang yang beriman kepada
Allah memuji Allah dengan mengagungkan-Nya. Ia sadar bahwa Allah telah
menciptakan segala keindahan yang ada. Ia tahu bahwa segala keindahan ini
adalah kepunyaan Allah dan merupakan perwujudan dari sifat-Nya Yang Maha Indah
(Al-Jamaal).
Ketika berjalan-jalan mengelilingi alam sekitar, seseorang merasakan
keindahan-keindahan yang lebih terasa dari sebelumnya. Dari sebatang rumput
hingga setangkai bunga daisy kuning, dari burung hingga semut, segala
sesuatunya penuh dengan kerumitan yang memerlukan perenungan. Ketika
merenungkan yang demikian, manusia akan memahami kekuasaan dan kebesaran Allah.
Kupu-kupu, misalnya, adalah makhluk yang sangat indah dan elok untuk
dilihat. Kupu-kupu, yang memiliki sayap dengan simetri dan disain semacam renda
yang demikian teliti sehingga terlihat seolah-olah dilukis dengan tangan,
dengan warna yang harmoni dan dipenuhi fosfor sehingga berpendar, adalah bukti
daya seni yang tak tertandingi dari ciptaan Allah.
Banyaknya jenis tanaman dan pohon yang tak terhitung di muka bumi merupakan
bagian dari keindahan ciptaan Allah. Bunga-bunga dengan warna yang
beraneka-ragam dan berbagai bentuk pepohonan telah diciptakan sedemikian rupa
sehingga memberikan kenyamanan bagi manusia.
Seseorang yang memiliki keimanan akan berpikir bagaimana bunga seperti
mawar, violet, daisy, hyacinth, anyelir, anggrek dan bunga-bunga lainnya
memiliki permukaan yang sedemikian mulus, bagaimana mereka muncul dari
biji-biji mereka dalam keadaan yang halus sama sekali tanpa ada
lipatan-lipatan, bagaikan telah disetrika.
Satu lagi keajaiban ciptaan Allah adalah aroma sedap yang menakjubkan dari
bunga-bunga ini. Mawar, misalnya, memiliki wangi yang tidak pernah berubah yang
selalu dikeluarkannya. Bahkan dengan teknologi paling maju sekalipun, bau yang
menyamai mawar tidak dapat dibuat. Penelitian di laboratorium-laboratorium
untuk menyerupai bau ini belum mendatangkan hasil yang memuaskan. Aroma parfum
yang diproduksi dengan meniru bau mawar pada umumnya memiliki bau harum yang
sedemikian kuat sehingga mengganggu orang. Tetapi bau asli dari bunga mawar tidak
menimbulkan gangguan apapun bagi manusia.
Orang yang beriman sadar bahwa segala sesuatu ini diciptakan Allah agar ia
memuji-Nya, untuk menunjukkan kepadanya karya seni dan ilmu Allah dari
keindahan-keindahan yang ia ciptakan. Sadar akan hal ini, seseorang yang
menyaksikan keindahan kebun ketika sedang berjalan-jalan akan mengagungkan
Allah seraya mengatakan, "Maa syaa Allahu, laa quwwata illaa billaah
(sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan
pertolongan Allah)" (QS. Al-Kahfi, 18: 39). Ia ingat bahwa Allah telah
memberikan segala keindahan ini untuk kepentingan manusia dan Dia akan
memberikan kenikmatan-kenikmatan luar biasa kepada orang-orang mukmin yang
tidak ada bandingannya di akhirat; sehingga kecintaannya kepada Allah semakin
bertambah.
Sudahkah anda merenungkan tentang seekor semut
yang anda lihat ketika berjalan di sebuah taman?
Manusia pada umumnya tidak begitu memperhatikan pentingnya berpikir tentang
beragam makhluk hidup yang mereka lihat di sekitarnya. Mereka tidak
membayangkan bahwasanya benda-benda hidup yang mereka jumpai setiap hari
tersebut memiliki ciri-ciri yang sangat menarik. Sebaliknya, bagi seseorang
yang beriman, setiap makhluk hidup ciptaan Allah memiliki karakteristik yang
menunjukkannya sebagai sebuah ciptaan yang sempurna. Semut adalah salah satu
diantaranya.
Sewaktu berjalan-jalan di taman, orang yang beriman tidak memalingkan muka
ketika melihat seekor semut. Dengan mengamati ciri-cirinya yang mengagumkan, ia
menyaksikan kesempurnaan ciptaan Allah.
Bahkan dengan hanya mengamati cara berjalan seekor semut pun dapat
mendorong akal kita untuk berpikir. Semut menggerakkan kaki-kakinya yang sangat
kecil secara berurutan dan sangat terorganisir, mengetahui dengan baik dan
sempurna kaki yang mana yang seharusnya melangkah terlebih dahulu untuk
kemudian diikuti kaki yang lain. Ia dapat berjalan dengan sangat cepat tanpa
lelah.
Serangga mungil ini mampu mengangkat beban yang bobotnya jauh lebih berat
dibanding tubuhnya, dan membawanya ke sarang sendirian. Ia mampu menempuh
perjalanan yang jaraknya sangat jauh dibandingkan dengan panjang tubuhnya yang
sangat pendek. Di atas tanah yang rata dan tidak berjejak, tanpa penunjuk arah,
semut dapat dengan mudah menemukan sarangnya. Kendatipun lubang masuk sarang
terlalu kecil bagi manusia untuk menemukannya, semut tidak merasakan
kebingungan dan menemukan sarang tersebut, tak menjadi soal dimana sarang
tersebut berada.
Ketika sedang berada di kebun dan melihat semut-semut yang berbaris satu
dengan yang lain, bekerja keras dan bersemangat mengangkut makanan ke dalam
sarangnya, seseorang tak mampu berhenti bergumam dalam hati mengapa makhluk
yang mungil ini kelihatan seolah-olah bekerja begitu keras. Seseorang kemudian
menyadari bahwa semut tersebut mengumpulkan makanan tidak hanya untuk dirinya
sendiri, tetapi juga untuk para anggota koloni semut yang lain, untuk sang ratu
dan bayi-bayi semut. Bagaimana semut yang mungil yang tidak memiliki otak yang
sempurna akan tetapi mampu berperilaku rajin, disiplin dan berkorban untuk
orang lain adalah sesuatu yang perlu untuk direnungkan. Setelah memikirkan
secara mendalam tentang fenomena-fenomena ini, seseorang mencapai sebuah
kesimpulan: semut, sebagaimana makhluk hidup yang lain, berperilaku dengan
mengikuti petunjuk Allah dan mematuhi perintah-perintah-Nya saja.
Bagaimana
gerakan tanaman merambat mendorong
seseorang
berpikir?
Orang
mukmin yang sedang berjalan di sebuah taman juga memikirkan tentang tanaman
yang merambat, yang juga dikenal dengan istilah ivy, yang ia temui, yang
merupakan satu dari nikmat-nikmat yang Allah ciptakan.
Bagi
orang yang berpikir, di setiap benda hidup terdapat tanda-tanda yang dapat
dijadikan pelajaran. Sebagai contoh, ivy yang melingkarkan tubuhnya
mengelilingi sebuah dahan atau benda lain adalah fenomena yang perlu dipikirkan
secara seksama. Jika pertumbuhan ivy direkam dan dipertunjukkan ulang dengan
cepat, akan terlihat bahwa ivy bergerak seolah-olah ia adalah makhluk yang
memiliki kesadaran. Ia seolah-olah melihat dahan yang berada tepat di
hadapannya, lalu ia mengulurkan dirinya ke arah dahan tersebut dan mengikatkan
diri ke dahan seperti tali lasso. Kadangkala ia melingkari dahan tersebut
beberapa kali untuk menguatkan ikatan dirinya terhadap dahan. Ia tumbuh sangat
cepat dengan cara yang demikian dan ketika telah sampai di ujung dahan, ia
tumbuh dengan mengikuti arah baru yakni kembali tumbuh melingkari dahan dengan
arah ke belakang, atau tumbuh kebawah. Seorang mukmin yang menyaksikan semua
ini kembali sadar bahwa Allah telah menciptakan semua benda hidup, dan bahwa
Dia menciptakannya sebagai sistim yang unik dan tanpa cacat.
Ketika
seseorang terus mengamati gerakan-gerakan ivy, ia menemukan satu ciri menarik
lain dari tumbuhan tersebut. Ia melihat bahwa ivy dengan kuat melekatkan dirinya
di atas permukaan dimana ia berada dengan menjulurkan lengan-lengan sampingnya.
Bahan yang kental yang diproduksi oleh tanaman yang tidak memiliki kesadaran
tersebut merekat sedemikian kuat sehingga ketika tanaman ini dicoba untuk
dipindahkan dengan cara menariknya dari tempat ia berada, maka cat yang ada
ditembok akan ikut terangkat juga.
Keberadaan
tanaman yang merambat sebagaimana diuraikan atas menunjukkan kepada orang
mukmin yang melihat dan kemudian memikirkannya, akan kekuasaan Allah, Pencipta tanaman
tersebut.
Bagaimana
pepohonan mendorong seseorang untuk
berpikir?
Setiap
hari kita melihat pepohonan di berbagai tempat; akan tetapi, pernahkan kita
memikirkan bagaimana air dapat mencapai daun yang paling jauh letaknya di ujung
teratas dari sebuah pohon yang tinggi? Kita akan mendapatkan pemahaman yang
lebih baik tentang keluarbiasaan ini dengan membuat sebuah perbandingan.
Tidaklah mungkin bagi air dalam sebuah tanki di bagian bawah bangunan anda
untuk naik ke lantai yang lebih atas tanpa adanya sebuah tanki hidroforik atau
mesin pompa air yang kuat. Anda tidak akan mampu
memompa air kendatipun hanya sampai ke lantai pertama. Oleh karena itu, sudah
seharusnya ada sistim pemompaan yang mirip dengan mesin hidrofonik yang
dimiliki oleh pohon. Jika tidak, mustahil air akan dapat mencapai batang pohon
dan cabang-cabangnya di bagian atas sehingga pohon-pohon tersebut akan segera
mati.
Namun Allah telah menciptakan untuk tiap-tiap pohon semua sarana dan
perlengkapan yang diperlukan. Tambahan lagi, sistim pemompaan di setiap pohon
terlalu canggih dibandingkan dengan yang ada di bangunan tempat tinggal
manusia. Ini adalah satu diantara beragam hal yang hendaknya dipikirkan oleh
seseorang ketika sedang menyaksikan tanaman-tanaman tersebut. Dan pemikiran semacam
ini hanya akan muncul jika ia senantiasa melihat ke segala sesuatu dengan
menggunakan "mata yang benar-benar melihat", yakni melihat sambil
memikirkan secara mendalam tentang apa yang sedang dilihatnya.
Hal lain yang dapat dipikirkan berhubungan dengan dedaunan. Ketika
memandang sebuah pohon, seseorang yang merenungkan segala sesuatu yang
dilihatnya tidak akan menganggap daun-daun pohon tersebut sebagai bentuk-bentuk
sederhana sebagaimana ia terbiasa untuk melihatnya. Ia berpikir berbagai hal
yang belum pernah terpikirkan oleh orang lain. Dedaunan, misalnya, adalah
sesuatu yang rentan dan mudah rusak. Namun, daun-daun ini tidak kering
kerontang karena panasnya terik sinar matahari yang menyengat. Ketika seorang
manusia berada pada suhu 40oC dalam waktu yang sebentar, warna kulitnya
berubah, ia menderita dehidrasi. Sebaliknya, daun mampu untuk tetap hijau di
bawah panas matahari yang menyengat tanpa terbakar selama berhari-hari, bahkan
berbulan-bulan meskipun sangat sedikit sekali jumlah air yang mengalir melalui
pembuluh-pembulunya yang mirip benang. Ini adalah sebuah keajaiban penciptaan
yang menunjukkan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dengan ilmu yang tak
tertandingi. Berpikir tentang keajaiban ciptaan tersebut, seseorang yang
beriman mampu sekali lagi melihat kebesaran Allah untuk kemudian
mengagungkan-Nya.
Ketika
sedang membaca surat kabar, melihat TV...
Orang-orang
mengikuti berita melalui berbagai surat kabar dan TV di siang hari ataupun
setelah mereka kembali ke rumah di petang hari. Dalam laporan berita tersebut,
banyak pemberitaan-pemberitaan yang dapat dipikirkan dan dilihat atau diambil
darinya peringatan serta tanda-tanda kekuasaan Allah oleh orang-orang yang
memiliki nalar.
Bagaimana
jumlah kasus kejahatan, penyerangan dan
pembunuhan
mendorong seseorang untuk berpikir?
Setiap
hari, melalui surat kabar lokal maupun berita televisi, seseorang mengetahui
adanya kasus pembunuhan, penganiayaan, pencurian, perampokan, penipuan dan
bunuh diri. Kejadian yang sering ini, serta kebanyakan manusia yang begitu
cenderung melakukan tindak kriminal tersebut memperlihatkan akibat yang
diderita oleh manusia yang hidupnya tidak berlandaskan agama Allah. Penculikan
yang dilakukan oleh seseorang terhadap seorang anak kecil untuk mendapatkan
uang tebusan yang menyebabkannya dihantui oleh perasaan takut yang sangat
termasuk upaya pembunuhan terhadapnya; seseorang yang menodongkan senapannya ke
arah orang lain lalu menembaknya tanpa ragu-ragu; seseorang yang menerima uang
suap, melakukan bunuh diri atau penipuan…Semua ini adalah indikasi bahwa para
pelaku tindak kriminal tersebut tidak takut kepada Allah dan tidak yakin akan
keberadaan hari akhirat. Seseorang yang takut kepada Allah dan mengetahui bahwa
ia akan dihisab di hari akhir tidak akan pernah berani melakukan satu pun dari
berbagai kejahatan tersebut. Sebab semuanya adalah perbuatan yang akan dibalas
dengan api neraka di akhirat.
Mungkin
ada yang berkata:"Saya seorang ateis. Saya tidak percaya kepada Allah,
tapi saya tidak menerima uang suap". Pernyataan orang yang tidak takut
kepada Allah ini tidak meyakinkan sama sekali. Sangat mungkin bahwa komitmen dalam memegang janjinya akan melemah ketika
kondisi berubah. Sebagai contoh, jika ia harus mendapatkan uang untuk keperluan
yang sangat mendesak, dan kebetulan berada pada kondisi yang memungkinkannya
untuk mencuri atau menerima uang suap, ia dapat saja tidak memegang janjinya.
Hal yang sama dapat berlaku ketika nyawanya berada dalam bahaya. Kendatipun ia
dapat menahan diri dari mengambil uang suap dalam situasi yang sulit, ia
mungkin cenderung untuk melakukan perbuatan terlarang lainnya. Sebaliknya,
orang yang beriman tidak pernah melakukan apapun yang tidak mampu dipertanggung
jawabkannya di akhirat.
Jadi, penyebab semua tindak kejahatan tersebut, yang mendorong kita
melakukan protes dan berteriak,"apa yang terjadi pada masyarakat
kita!" melalui surat kabar, TV, kantor-kantor pada hakikatnya adalah
jauhnya mereka dari agama. Ketika menyaksikan berita-berita sebagaimana di
atas, orang yang beriman tidak memalingkan muka, sebaliknya mereka berpikir
bahwa satu-satunya jalan keluar adalah untuk menyampaikan ajaran agama dan
menghidupkan nilai-nilai akhlaq dalam masyarakat. Sebab dalam masyarakat yang
terdiri atas orang-orang yang takut kepada Allah dan tahu bahwa mereka akan
mempertanggung jawabkan perbuatannya di akhirat, tidaklah mungkin semua
peristiwa ini terjadi. Dalam masyarakat yang demikian, kedamaian dan keamanan
akan dinikmati pada puncaknya.
Bagaimana
acara diskusi TV sampai pagi hari
mendorong
seseorang berpikir?
Bagi
seseorang yang terus-menerus berpikir mendalam tentang segala yang ia lihat di
sekitarnya, acara-acara diskusi yang disiarkan melalui TV pun dapat dijadikan
bahan renungan.
Acara-acara
tersebut menampilkan tokoh-tokoh serta para ahli di bidang yang sedang menjadi
topik hangat di hari itu. Mereka mendiskusikan sebuah topik selama berjam-jam,
namun tak seorang pun di antara mereka mampu memberikan jalan keluar atau
mencapai sebuah kesimpulan. Padahal mereka yang menghadiri acara diskusi
tersebut adalah orang-orang yang dipercayai memiliki kemampuan dalam memecahkan
masalah yang ada.
Sungguh,
jalan keluar dari sebagian besar permasalahan yang sedang didiskusikan tersebut
sangatlah jelas. Namun kepentingan pribadi masing-masing orang, pengaruh dari
golongan mereka, ambisi untuk menonjolkan diri pribadi dari pada mencari sebuah
solusi secara ikhlas, membawa mereka pada jalan buntu.
Ketika
menyaksikan ini semua, orang yang memiliki nalar akan berpikir bahwa sebenarnya
penyebab dari persoalan yang ada terletak pada jauhnya masyarakat dari agama
Allah. Orang yang beriman kepada Allah tidak pernah menunjukkan perilaku yang
tidak bertanggung jawab, sia-sia ataupun acuh tak acuh. Ia sadar bahwa ada
kebaikan di setiap peristiwa yang Allah perlihatkan kepadanya. Ia paham bahwa
ia selalu berada dalam keadaan diuji di dunia ini yang mengharuskannya untuk
menggunakan akal, kekuatan dan pengetahuannya dalam segala hal yang dapat
membuat Allah ridha.
Di
samping itu, seorang mukmin senantiasa ingat akan sebuah ayat Allah ketika
melihat acara tersebut:
"…
Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah." (QS. Al-Kahfi, 18: 54)
Dalam acara diskusi tersebut terlihat adanya perdebatan, atau bahkan,
percekcokan antar para tokoh dan ahli yang tampil di TV. Juga ketidakmengertian
mereka akan permasalahan yang dikemukakan kepada mereka, terobsesi dengan apa
yang akan mereka katakan dan mencoba untuk paling dahulu mengatakannya, saling
memotong pembicaraan, meninggikan suara dengan mudahnya, begitu cepat kehilangan
kesabaran, saling melontarkan ejekan; adalah bukti yang penting untuk
diperhatikan dalam mamahami aspek-aspek negatif dari orang-orang ini.
Di sebuah lingkungan dengan seratus persen orang-orang yang ikhlas dan
jujur yang mempunyai rasa takut kepada Allah, tontonan yang memakan waktu lama
dan tak ada hasilnya semacam ini tidak pernah terjadi. Karena tujuan mereka
adalah mencari jalan keluar yang paling diridhai Allah, dan yang paling membawa
manfaat bagi masyarakat, maka metode yang paling tepat sesuai dengan akal dan
nalar akan mudah ditemukan dan dilaksanakan tanpa membuang-buang waktu. Karena
setiap orang akan merasa puas dengan keputusan akhir maka percekcokan pun tidak
akan terjadi.
Jika ada yang merasa keberatan berdasarkan dalih yang dapat diterima serta
mengusulkan jalan keluar yang lebih baik, maka usulan ini yang akan langsung
dipakai. Mereka yang takut kepada Allah tidak seperti kebanyakan orang, dan
tidak menunjukkan sikap keras kepala dan arogan. Dengan mengingat apa yang
Allah firmankan dalam Al-Qur'an; "… Dan di atas tiap-tiap orang yang
berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui" (QS. Yuusuf,
12: 76),
mereka mengambil pilihan yang paling tepat.
Kebalikannya,
yakni diskusi yang berlangsung hingga pagi hari tanpa dihasilkannya suatu
pemecahan masalah adalah contoh berharga yang dapat terjadi di sebuah
lingkungan dimana akhlaq mulia yang diajarkan agama tidak dijalankan.
Bagaimana
kelaparan dan kemelaratan di setiap
penjuru
dunia mendorong seseorang untuk berpikir?
Salah
satu permasalahan yang sering dibahas di media massa adalah ketidakadilan dalam
masyarakat.
Ketika
di belahan dunia yang satu terdapat negara-negara yang sangat makmur dengan
tingkat kesejahteraan yang sangat tinggi, namun di belahan bumi yang lain
terdapat orang-orang yang tidak memiliki sesuatupun yang dapat dimakan atau
obat untuk penyakit yang paling ringan sekalipun sehingga mereka pada akhirnya
meninggal tak terurus. Pertama-tama, fenomena tersebut menunjukkan keberadaan
sebuah sistim yang dzalim dan tidak adil di dunia. Sebenarnya sangatlah mudah
bagi satu atau segilintir negara untuk menyelamatkan orang-orang yang
terdzalimi ini. Misalnya, rakyat di negara-negara tetangga di Afrika sedang
mati kelaparan, namun ada kelompok masyarakat yang telah menumpuk harta dari
pertambangan intan dan dengannya membangun sebuah peradaban yang maju.
Kendatipun sangat mudah untuk memindahkan orang-orang yang hidup melarat dan
kelaparan dan hampir meninggal ini, atau memberi sarana yang mereka butuhkan di
daerah tempat tinggal mereka, namun selama puluhan tahun tidak ada jalan keluar
yang berarti yang telah diberikan kepada mereka. Menolong orang tersebut
bukanlah sebuah tugas yang dapat diselesaikan oleh segelintir orang. Untuk
mendapatkan penyelesaian yang berarti, perlu banyak orang yang mau mengorbankan
diri mereka. Sayangnya, hingga kini jumlah orang yang menklaim telah mengatasi
bencana kemanusiaan tersebut masih terlalu sedikit.
Di lain
pihak, trilyunan dolar telah dihambur-hamburkan di setiap penjuru dunia untuk
beragam tujuan. Di satu sisi ada orang-orang yang membuang makanannya hanya
karena tidak puas dengan jumlah garam dalam makanan tersebut, di lain pihak ada
manusia yang mati karena tidak menemukan makanan untuk dimakan. Ini adalah
bukti nyata adanya tatanan yang dzalim dan tidak adil akibat tidak diamalkannya
akhlaq agama.
Orang
yang memahami persoalan ini berpikir bahwa satu-satunya yang akan menghilangkan
ketidakadilan adalah akhlaq yang diajarkan Allah. Mereka yang takut kepada
Allah dan bertingkah laku sesuai dengan hati nurani dan akalnya tidak akan
pernah membiarkan kepincangan dan ketidakadilan yang ada. Mereka akan keluar
untuk menolong orang-orang yang membutuhkan dengan solusi yang cepat, tepat dan
permanen tanpa menonjolkan diri ataupun mengharapkan segala sesuatu yang
bersifat duniawi.
Disebutkan
dalam Al-Qur'an bahwa menolong kaum fakir dan miskin adalah ciri orang-orang
yang takut kepada Allah dan hari pembalasan:
"Dan
orang-orang yang dalam hartanya tersedia dalam bagian tertentu, bagi orang
(miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau
meminta), dan orang yang mempercayai hari pembalasan, dan orang-orang yang
takut terhadap adzab Tuhannya." (QS. Al-Ma’arij, 70: 24-27)
"Dan
mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan
orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk
mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan
tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesungguhnya kami takut akan (adzab) Tuhan
kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh
kesulitan." (QS. Al-Insaan, 76:
8-10)
Tidak memberi makan kepada orang miskin adalah ciri orang yang tidak
beragama dan tidak memiliki rasa takut kepada Allah:
"Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian
masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia
dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. Sesungguhnya dia dahulu tidak
beriman kepada Allah Yang Maha Besar. Dan juga dia tidak
mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin. Maka tiada seorang
temanpun baginya pada hari ini di sini. Dan tiada (pula) makanan sedikitpun
(baginya) kecuali dari darah dan nanah. Tidak ada yang memakannya kecuali
orang-orang yang berdosa." (QS. Al-Haaqqah, 69: 30-37)
Bagaimana
bencana alam yang terjadi di seluruh
dunia
mendorong seseorang berpikir?
Diantara
pemberitaan yang sering kita disaksikan di berbagai stasiun TV dan surat kabar
adalah laporan tentang bencana alam. Manusia dapat tertimpa bencana alam
seperti gempa bumi hebat, kebakaran ataupun banjir. Seseorang yang menyaksikan
berbagai liputan tentang bencana alam berpikir bahwa Allah mempunyai kuasa atas
segala sesuatu, bahwa Dia dapat saja menghancur luluhkan sebuah kota hingga rata
dengan tanah jika Dia menghendaki. Setelah memikirkan ini semua, ia paham bahwa
tidak ada sesuatupun selain Allah yang dapat dijadikan tempat berlindung dan
memohon pertolongan. Bahkan bangunan-bangunan yang paling kokoh; kota-kota yang
dilengkapi dengan teknologi yang paling canggih pun tidak akan mampu bertahan
terhadap adzab Allah; mereka dapat musnah seketika.
Semua
pemandangan ini ditunjukkan kepada manusia agar berpikir dan mengambil
pelajaran.
Orang
yang mendengar atau membaca laporan bencana alam tersebut juga berpikir bahwa
Allah telah menurunkan bencana atas kota ini untuk suatu tujuan. Dalam
Al-Qur'an, Allah berfirman bahwa kepada bangsa-bangsa yang menentang, Allah
mengirimkan adzab agar mereka sadar atau mendapatkan balasan dari perbuatan mereka.
Dengan demikian jika suatu masyarakat melakukan bentuk perbuatan yang tidak
diridhai Allah, mereka pun akan dikenai hukuman Allah dengan sebab tersebut. Atau Allah mungkin sedang menguji mereka dengan kesusahan di dunia.
Dengan memikirkan segala kemungkinan tersebut, seseorang akan takut
kalau-kalau hal serupa akan juga menimpanya, dan memohon ampunan Allah atas
segala perbuatannya.
Tak seorang atau suatu bangsa pun dapat menghindar dari bencana apapun
kecuali jika Allah berkehendak lain. Tak peduli apakah bangsa tersebut termasuk
yang paling kaya dan terkuat di dunia atau mendiami sebuah tempat yang letak
gegrafisnya tidak menunjukkan adanya kemungkinan terkena bencana tersebut.
Allah berfirman bahwa tak ada satupun bangsa yang mampu mencegah bencana yang
akan menimpa mereka.
"Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan
siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau
apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami
kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang
bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari adzab Allah (yang tidak
terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan adzab Allah kecuali orang-orang yang
merugi. Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang mempusakai suatu negeri
sesudah (lenyap) penduduknya, bahwa kalau Kami menghendaki tentu Kami adzab
mereka karena dosa-dosanya; dan Kami kunci mati hati mereka sehingga mereka
tidak dapat mendengar (pelajaran lagi)?" (QS. Al-A’raaf, 7:
97-100)
Bagaimana
berita tentang sistem riba mendorong
seseorang
berpikir?
Topik
lain yang sering muncul dalam berita adalah masalah ekonomi yang makin
terpuruk. Sejumlah berita negatif khususnya tentang nilai suku bunga atau riba
disiarkan setiap hari. Orang yang membaca laporan-laporan yang menyebut tentang
suku bunga yang tidak terkendali dan menyebabkan krisis ekonomi berpikir bahwa
akibat dari perbuatan terlarang yang begitu luasnya tersebar, Allah mengurangi
pendapatan mereka. Sebagaimana yang tercantum dalam ayat, "… Allah
memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang
yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.". (QS. Al-Baqarah, 2:
276), Allah mampu menghilangkan keuntungan yang dihasilkan melalui bunga
atau riba, dan menurunkan produktifitasnya. Fakta ini tercantum dalam ayat lain:
"Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada
harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu
berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka
(yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan
(pahalanya)" (QS. Ar-Ruum, 30: 39)
Bagi orang yang merenung, berita tentang riba termasuk bukti nyata yang
menunjukkan bahwa ayat Allah berlaku pada manusia
Berpikir tentang tempat-tempat yang indah
Melalui acara-acara TV, surat kabar dan majalah-majalah manusia dapat
menyaksikan sekaligus memikirkan keindahan-keindahan yang Allah ciptakan.
Melihat ataupun mengunjungi pemandangan yang mempesona, rumah yang bagus, taman
atau pantai yang indah sudah pasti menyenangkan setiap orang. Beragam
pemandangan tersebut pertama-tama dapat mengingatkan seseorang akan surga.
Orang yang beriman sekali lagi ingat bahwa Allah, yang telah memberikan
sedemikian banyak nikmat dan menunjukkan keindahan yang luar biasa, telah
menyediakan tempat-tempat yang keindahannya tak tertandingi di surga.
Pemandangan tersebut dapat pula mendorong seseorang untuk berpikir: setiap
keindahan yang diciptakan di dunia memiliki sejumlah ketidaksempurnaan karena
memang dunia adalah tempat ujian. Seseorang yang berada beberapa saat di
tempat-tempat rekreasi yang gambarannya pernah ia saksikan sebelumnya di TV
dapat melihat kekurangan-kekurangan tersebut. Beberapa contoh diantaranya
adalah cuaca yang terlalu lembab, air laut yang kadar garamnya sangat tinggi,
panas terik yang menyengat, lalat yang berterbangan di mana-mana. Di dunia
terdapat banyak kesulitan-kesulitan dan keadaan-keadaan yang tidak menyenangkan
seperti sakit akibat tersengat sinar matahari, agen perjalanan yang kurang
terorganisasi, temperamen kurang bersahabat dari orang-orang yang bersama-sama
dengan kita merasakan kondisi ini.
Sebaliknya, di dalam surga terdapat keindahan-keindahan yang sempurna dan
asli, tak terdapat sesuatupun yang mengganggu manusia dan tak satupun
percakapan yang tidak menyenangkan akan terucap. Ketika melihat setiap
keindahan yang ada di dunia, ia memikirkan dan mendambakan surga. Ia selalu
bersyukur atas segala kenikmatan yang telah dikaruniakan Allah kepadanya di
dunia, dan ia menikmatinya sambil berpikir bahwa semua ini adalah anugerah yang
Allah turunkan dari rahmat-Nya. Dengan mengetahui bahwa sumber dari segala
keindahan ini berasal dari surga, ia tidak akan melupakan akhirat akibat
terlenakan oleh keindahan-keindahan dunia. Ia menjalani kehidupan dengan cara
yang membuatnya mampu memperoleh keindahan abadi dan layak untuk masuk ke dalam
surga Allah.
Bagaimana informasi dari majalah ilmiah yang menyatakan
bahwa unsur penyusun materi adalah atom membuat
seseorang berpikir?
Tanpa memikirkan terhadap apa-apa yang ia ketahui, seseorang tidak akan
mampu mengetahui hal-hal yang demikian rumit namun penting; dan menyadari
betapa luar biasanya lingkungan di mana ia berada. Oleh karena itu, orang yang
beriman senantiasa memikirkan berbagai makhluk hidup dan kejadian-kejadian yang
Allah ciptakan. Kendatipun semua itu dapat berupa segala sesuatu yang sudah
umum dan diketahui oleh banyak orang, namun ia mampu untuk mengambil
kesimpulan-kesimpulan yang berbeda dibandingkan dengan orang lain.
Sebagai contoh, adalah fakta yang telah dikenal luas bahwa unsur dasar
penyusun setiap benda di jagad raya, hidup ataupun tak hidup, adalah atom-atom.
Dengan kata lain sebagian besar manusia tahu bahwa buku yang mereka baca, kursi
yang mereka duduki, air yang mereka minum dan apapun yang mereka lihat di
sekitar mereka tersusun atas atom-atom. Namun hanya orang-orang yang memiliki
nalar dan kesadaran saja yang mampu berpikir lebih jauh tentang hal ini dan
menyaksikan kehebatan Allah.
Ketika orang-orang tersebut melihat sebuah laporan yang membahas tentang
topik di atas, ia akan berpikir sebagaimana berikut: atom-atom adalah benda tak
hidup. Lalu bagaimana substansi tak hidup seperti atom-atom dapat bergabung dan
membentuk wujud manusia yang memiliki kemampuan untuk melihat, mendengar,
menafsirkan segala sesuatu yang mereka terima, menikmati musik yang mereka
dengar, berpikir, membuat keputusan-keputusan, menjadi bahagia atau tidak
bahagia? Bagaimana manusia mendapatkan segala kemampuan seperti ini?; yakni
sifat-sifat kemanusiaan yang sama sekali berbeda dengan wujud fisik yang
dihasilkan dari penggabungan atom-atom yang berbeda tersebut.
Sudah tentu atom-atom yang tak hidup dan tidak memiliki kesadaran tersebut
tidak dapat memberikan kepada manusia sifat-sifat kemanusiaan. Adalah fakta
bahwa Allah menciptakan manusia dengan ruh yang memiliki sifat-sifat tersebut.
Hal ini mengingatkan kita pada sebuah ayat Allah:
"Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang
memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya
dari saripati air yang hina. Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke
dalamnya ruh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran,
penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur." (QS.
As-Sajadah, 32: 7-9)
Beberapa
fakta yang didapatkan oleh seseorang
setelah berpikir secara mendalam
Pernahkan anda berpikir bahwa setiap sesuatu diciptakan untuk manusia saja?
Ketika seseorang yang beriman kepada Allah mengamati segala sesuatu beserta
sistim yang ada, hidup ataupun tak hidup, yang ada di jagad raya dengan
menggunakan mata yang penuh perhatian, ia melihat bahwa segalanya telah
diciptakan untuk manusia. Ia mengetahui bahwa tak satupun yang muncul dan menjadi
ada di dunia secara kebetulan, namun diciptakan oleh Allah dalam keadaan yang
sangat sesuai untuk kehidupan manusia.
Misalnya, dari dulu hingga sekarang manusia dapat bernapas tanpa susah
payah di setiap saat. Udara yang ia hirup tidak membakar saluran hidungnya,
tidak membuatnya mabuk ataupun sakit kepala. Komposisi unsur-unsur ataupun
senyawa-senyawa gas dalam udara telah ditetapkan dalam jumlah yang paling
sesuai untuk tubuh manusia. Seseorang yang memikirkan hal ini teringat akan hal
lain yang sangat penting: seandainya kadar oksigen dalam atmosfir sedikit lebih
atau kurang dari yang ada sekarang, dalam dua keadaan tersebut kehidupan akan
hancur. Ia lalu ingat betapa susahnya bernapas ketika berada dalam tempat yang
tidak mengandung udara. Ketika seorang yang beriman terus-menerus memikirkan
masalah ini, ia akan selalu bersyukur kepada Tuhannya. Ia melihat bahwa
atmosfir bumi dapat saja dibuat sedemikian rupa sehingga membuatnya susah untuk
bernapas sebagaimana banyak planet-planet yang lain. Namun tidak lah demikian
kenyataannya, atmosfir bumi diciptakan dalam keseimbangan dan keteraturan yang
demikian sangat sempurna sehingga membuat jutaan manusia bernapas tanpa susah
payah.
Seseorang yang tiada henti memikirkan tentang planet dimana ia hidup,
meyadari betapa pentingnya air yang diciptakan Allah untuk kehidupan manusia.
Kemudian ia pun berpikir: manusia pada umumnya paham tentang pentingnya air
hanya ketika mereka kekurangan air dalam waktu yang lama. Air
adalah substansi yang kita butuhkan setiap saat dalam hidup kita. Misalnya,
sebagian besar dari sel-sel tubuh, dan darah yang menjangkau setiap bagian
kecil dari tubuh kita tersusun atas air. Jika tidak demikian, maka fluiditas
darah akan berkurang dan darah akan sangat sulit mengalir di dalam pembuluh
vena. Fluiditas air tidak hanya penting bagi tubuh kita akan tetapi juga untuk
tumbuh-tumbuhan. Air mampu menjangkau bagian yang paling ujung dari daun dengan
melalui pembuluh-pembuluhnya yang halus seperti benang.
Massa
air yang sangat besar di lautan menjadikan bumi kita tempat yang dapat didiami.
Jika proporsi lautan di bumi menjadi lebih kecil dari daratan, di mana-mana
akan berubah menjadi gurun yang tidak memungkinkan adanya kehidupan.
Seseorang
yang sadar dan berpikir tentang hal ini akan benar-benar yakin bahwa adanya
keseimbangan yang begitu sempurna di bumi sudah pasti bukanlah sebuah
kebetulan. Setelah menyaksikan dan memikirkan fenomena tersebut, akan tampak
bahwa segala sesuatu diciptakan dengan sebuah tujuan oleh Pencipta yang Maha
Tinggi dan Pemilik Kekuatan yang Abadi.
Di
samping itu, ia juga sadar bahwa contoh-contoh yang telah ia pikirkan
sebagaimana di atas sangatlah terbatas. Sungguh, tidaklah mungkin untuk
menyebutkan jumlah seluruh contoh-contoh yang berkenaan dengan keseimbangan
yang sempurna di bumi. Bagi orang yang berpikir, ia akan dapat dengan mudah
menyaksikan keteraturan, kesempurnaan dan keseimbangan yang terlihat jelas di
setiap sudut jagad raya, dan dengannya mencapai suatu kesimpulan bahwa segala
sesuatu diciptakan Allah untuk manusia. Allah
berfirman dalam Al-Qur'an:
"Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di
bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian
itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang
berpikir." (QS. Al-Jaatsiyah, 45: 13)
Bagaimana
kekekalan mendorong seseorang berpikir?
Setiap
orang telah mengetahui konsep kekekalan atau keabadian, namun sudahkan anda
berpikir tentang kekekalan? Ini adalah salah satu yang menjadi bahan renungan
orang yang beriman kepada Allah.
Keberadaan
kehidupan surga dan neraka yang kekal ciptaan Allah sangatlah penting dan perlu
untuk direnungkan oleh setiap orang. Seseorang yang memikirkannya akan mendapat
gambaran dalam benaknya: surga yang abadi adalah nikmat dan pahala yang sangat
besar yang diberikan kepada manusia setelah mati. Kehidupan yang penuh kemuliaan
di surga tidak akan pernah berakhir. Manusia hidup di dunia paling lama seratus
tahun. Namun kehidupan di surga akan berlangsung selama trilyunan tahun
dikalikan angka trilyunan tanpa ada akhirnya.
Orang
yang ingat akan hal tersebut sadar bahwa sangatlah sulit bagi manusia untuk
memahami konsep keabadian. Contoh berikut mungkin membantu dalam menjelaskan
masalah ini: "seandainya di dunia terdapat seratus trilyun manusia, dan
semuanya memiliki umur seratus trilyun tahun, dan mereka menghabiskan seluruh
waktu hidupnya dengan berhitung di siang dan malam hari, maka jumlah total
angka yang mereka capai tetap nol dibandingkan dengan jumlah tahun yang akan
mereka habiskan di kehidupan yang kekal di akhirat."
Setelah
memikirkan masalah di atas, seseorang akan sampai pada kesimpulan sebagai
berikut: Allah memiliki ilmu yang sedemikian luas dan tinggi yang tidak
dibatasi oleh ruang dan waktu. Peristiwa yang berlangsung terus menerus
sepanjang waktu tanpa ada akhirnya atau dengan kata lain berlansung secara
kekal dalam pandangan manusia, telah selesai atau berakhir dalam pandangan
Allah. Setiap peristiwa dan setiap pikiran manusia, terlepas dari bentuk maupun
waktu terjadinya peristiwa dan pikiran ini, yang terjadi sejak pertama kali
waktu diciptakan hingga saat keabadian berlangsung telah ditentukan dan
diputuskan menurut ilmu-Nya.
Demikian
pula, seseorang seharusnya berpikir bahwa neraka adalah tempat tinggal
selamanya bagi orang-orang yang tidak beriman. Terdapat beragam bentuk
penyiksaan, hukuman dan kehidupan yang menyengsarakan di neraka Di tempat ini
mereka menderita siksaan jasad dan ruh yang terus-menerus tanpa istirahat.
Siksaan yang tiada pernah berhenti hingga akhir masa, dan tidak pula pernah
dihentikan untuk tidur ataupun istirahat. Seandainya ada akhir dari kehidupan
di neraka, ini akan menjadi harapan bagi para penghuni neraka kendatipun
bertrilyun-trilyun tahun kemudian. Namun, yang mereka terima sebagai balasan
dari dosa-dosa yang mereka perbuat di kehidupan dunia adalah adzab yang kekal.
"Dan orang-orang yang mendustakan
ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni
neraka; mereka kekal di dalamnya." (QS. Al-A'raaf, 7: 36)
Sangatlah
penting bagi setiap individu untuk mencoba memahami keabadian dengan
merenungkannya dalam rangka meningkatkan semangat dalam meraih akhirat, dan
menguatkan ketakutan dan pengharapannya. Sangat takut kepada siksaan yang
kekal, namun pada saat yang sama senantiasa berharap untuk mendapatkan surga
yang abadi.
Bagaimana
seseorang berpikir tentang mimpi?
Terdapat
sejumlah pelajaran penting dalam fenomena mimpi bagi orang yang berpikir. Ia
berpikir: betapa "sangat nyatanya" mimpi-mimpi yang dilihatnya ketika
sedang tidur, tidak begitu berbeda dengan ketika ia sedang terjaga. Misalnya,
kendatipun jasad sedang terbujur di tempat tidur, dalam mimpinya ia melakukan
perjalanan bisnis, bertemu dengan orang-orang baru, makan siang sambil
mendengarkan musik. Ia menikmati rasa makanannya, menari-nari mengikuti irama
musik, merasa sangat gembira karena peristiwa-peristiwa yang terjadi, menjadi
bahagia dan tidak bahagia, takut, merasa lelah, bahkan mampu mengemudikan
kendaran yang belum pernah dinaikinya atau bahkan belum tahu bagaimana
mengendarainya hingga hari itu.
Kendatipun
tubuh tertidur dengan tenang di pembaringan dengan kedua mata terpejam, ia
melihat beragam pemandangan dari tempat di mana ia berada. Ini berarti bahwa
apa yang melihat bukanlah matanya. Meskipun ruangan tempat ia tidur kosong, ia
mendengar suara-suara. Ini berarti bahwa yang mendengar bukanlah telinganya. Segala sesuatu terjadi di dalam otaknya. Setiap kejadian tersebut sama
sekali nyata seakan-akan setiap apa yang dilihat benar-benar nyata dan asli
kendatipun tak satupun dari yang dilihatnya tersebut memiliki keaslian atau
wujud di luar mimpinya. Lalu apakah yang menyebabkan pemandangan-pemandangan
tersebut tampak sedemikian nyata di benak seseorang? Manusia tidak mampu
membuatnya secara sadar dan sengaja ketika sedang tidur. Otak pun tidak akan
mampu membuat sendiri gambar-gambar serupa. Otak adalah sebuah gumpalan yang
terdiri atas molekul-molekul protein. Sangatlah tidak rasional untuk mengatakan
bahwa substansi ini dengan sendirinya mampu membuat gambaran, bahkan menampilkan
wajah-wajah manusia, tempat-tempat, suara yang belum pernah terdengar kecuali
pada hari itu. Lalu siapakah yang memperlihatkan gambar-gambar atau
pemandangan-pemandangan ini dalam mimpi ketika sedang tidur? Sekali lagi,
seseorang yang merenungkan pertanyaan-pertanyaan ini akan melihat kebenaran
yang hakiki: Allah lah yang membuat manusia tidur, mengambil ruh mereka ketika
mereka sedang tidur, mengembalikannya kepada mereka ketika bangun dan
memperlihatkan mimpi-mimpi mereka dalam tidur.
Orang yang mengetahui bahwa Allah memperlihatkan mimpi juga akan
merenungkan makna tersembunyi dan tujuan penciptaan mimpi tersebut. Ketika
seseorang mendapatkan mimpi, ia yakin akan keberadaan orang-orang dan
peristiwa-peristiwa yang ia alami sebagaimana ketika ia sedang terjaga. Ia
berpikir bahwa semua ini benar-benar nyata, bahwa kehidupan dalam mimpinya
tidak akan berakhir dan akan berlangsung terus-menerus. Jika ada seseorang yang
datang menghampirinya dan berkata,"Anda saat ini sedang bermimpi,
bangunlah", maka ia tidak akan mempercayainya. Orang yang mengetahui
tentang kenyataan tersebut akan berpikir: "Tak seorang pun dapat
menyangkal bahwa hidup di dunia pun sementara, sebagaimana mimpi belaka.
Sebagaimana ketika terjaga dari sebuah mimpi, suatu hari saya juga akan terbangun
dan terjaga dari kehidupan dunia dan melihat gambaran yang sama sekali berbeda,
misalnya gambaran tentang akhirat….
Memikirkan Ayat-Ayat
Al-Qur’an
Al-Qur'an adalah kitab terakhir yang Allah turunkan bagi semua manusia.
Setiap orang yang hidup di bumi wajib mempelajari Al-Qur'an dan melaksanakan
perintah-perintahnya. Akan tetapi, kebanyakan manusia tidak mempelajari ataupun
melaksanakan apa yang Allah perintahkan dalam Al-Qur'an kendatipun mereka
menerimanya sebagai sebuah kitab yang diwahyukan. Ini adalah akibat dari belum
memikirkan tentang Al-Qur'an tetapi sekedar mengetahui dari informasi yang
didapat dari sana sini. Sebaliknya, bagi orang yang berpikir, Al-Qur'an
memiliki kedudukan dan peranan yang sangat besar dalam kehidupannya.
Pertama-tama, orang yang "berpikir" ingin mengetahui tentang
Pencipta yang telah menciptakan dirinya dan jagad raya di mana ia tinggal dari
ketiadaan, yang telah memberinya kehidupan ketika dirinya belum berwujud, dan
yang telah menganugerahkan kepadanya nikmat dan keindahan yang tak terhitung
jumlahnya; dan ia pun mempelajari tentang bentuk-bentuk perbuatan yang diridhai
Allah. Al-Qur'an, yang Allah wahyukan kepada Rasul-Nya, adalah petunjuk yang
memberikan jawaban atas pertanyaan manusia di atas. Dengan alasan ini, manusia
perlu mengetahui kitab Allah yang diturunkan untuknya sebagai petunjuk yang
dengannya ia membedakan yang baik dari yang buruk, merenungkan setiap ayatnya
dan melaksanakan apa yang Allah perintahkan dengan cara yang paling tepat dan
diridhai.
Allah berfirman tentang tujuan diturunkannya Al-Qur'an untuk manusia:
"Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan
berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran
orang-orang yang mempunyai pikiran." (QS. Shaad, 38: 29)
"Sekali-kali tidak demikian halnya. Sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah
peringatan. Maka barangsiapa menghendaki, niscaya dia mengambil pelajaran
daripadanya (Al-Qur’an). Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran daripadanya
kecuali (jika) Allah menghendakinya. Dia (Allah) adalah
Tuhan Yang patut (kita) bertakwa kepada-Nya dan berhak memberi ampun." (QS. Al-Muddatstsir, 74: 54-56)
Banyak orang membaca Al-Qur'an, namun yang penting adalah sebagaimana yang
Allah nyatakan dalam ayat-Nya yakni merenungkan tiap ayat Al-Qur'an, mengambil
pelajaran dari ayat tersebut dan memperbaiki perilaku seseorang sesuai dengan
pelajaran yang terkandung di dalamnya. Orang yang membaca ayat: "Karena
sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah
kesulitan itu ada kemudahan." (QS. Alam Nasyrah, 94: 5-6), misalnya,
akan merenungkan ayat ini: ia paham bahwa Allah menciptakan kemudahan disamping
setiap kesulitan, karena itu yang ia harus lakukan ketika menemui sebuah
kesulitan adalah percaya penuh kepada Allah dan menantikan kemudahan yang akan
datang kemudian. Dengan janji Allah ini, ia melihat bahwa putus harapan atau
menjadi panik di saat munculnya kesulitan adalah sebuah tanda dari lemahnya
iman. Setelah membaca dan merenungkan ayat di atas, perilakunya selalu sejalan
dengan ayat tersebut sepanjang hidupnya.
Dalam Al-Qur'an, Allah mengisahkan beberapa pelajaran dari kehidupan para
nabi dan rasul yang hidup di masa lampau agar manusia dapat melihat bagaimana
perilaku, pembicaraan dan kehidupan manusia yang diridhai Allah, dan menjadikan
mereka sebagai panutan. Allah berfirman dalam beberapa ayat-Nya bahwa manusia
hendaknya memikirkan dan mengambil pelajaran dari kisah-kisah para rasul
tersebut:
"Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi
orang-orang yang mempunyai akal." (QS. Yuusuf, 12: 111)
"Dan juga pada Musa (terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah) ketika Kami
mengutusnya kepada Fir'aun dengan membawa mu'jizat yang nyata." (QS.
Adz-Dzaariyaat, 51: 38)
"Maka Kami selamatkan Nuh dan penumpang-penumpang bahtera itu dan Kami
jadikan peristiwa itu pelajaran bagi semua umat manusia." (QS. Al-Ankabuut, 29: 15)
Dalam Al-Qur'an, disebutkan beberapa ciri bangsa-bangsa kuno, akhlaq serta
bencana-bencana yang menimpa mereka. Adalah sebuah kesalahan yang besar untuk
memahami ayat-ayat ini hanya sebagai peristiwa sejarah dengan berbagai
peristiwa yang menimpa mereka. Sebab, sebagaimana di semua ayat yang lain,
Allah mengisahkan kehidupan bangsa-bangsa di masa lampau untuk kita renungkan
dan ambil pelajaran dari berbagai bencana yang menimpa bangsa-bangsa ini
sebagai pedoman dalam memperbaiki perilaku kita:
"Dan sesungguhnya telah Kami binasakan orang yang serupa dengan kamu.
Maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?" (QS. Al-Qamar, 54: 51)
"Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan
paku, yang berlayar dengan pemeliharaan Kami sebagai balasan bagi orang-orang
yang diingkari (Nuh). Dan sesungguhnya telah Kami jadikan kapal itu sebagai
pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? Maka alangkah
dahsyatnya adzab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan
Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?"
(QS. Al-Qamar, 54: 13-17)
Allah telah menurunkan Al-Qur'an untuk semua manusia sebagai petunjuk. Oleh
karena itu, memikirkan setiap ayat Al-Qur'an dan menjalani hidup sesuai Al-Qur'an
dengan mengambil pelajaran dan peringatan dari setiap ayatnya adalah
satu-satunya cara untuk mendapatkan keridhaan, kasih sayang dan surga Allah.
Tentang apakah di dalam Al-Qur'an
Allah
mengajak manusia untuk berpikir?
"Dan Kami turunkan kepadamu Adz-Dzikr (Al-Qur’an), agar kamu
menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan
supaya mereka memikirkan." (QS. An-Nahl,
16: 44)
Sebagaimana dalam ayat di atas, di banyak ayat-Nya yang lain, Allah
mengajak manusia untuk merenung. Memikirkan tentang apa-apa yang Allah
perintahkan kita untuk berpikir, dan melihat makna tersembunyi dan keajaiban
ciptaa-Nya adalah salah satu bentuk ibadah. Setiap hal yang kita renungkan akan
membantu kita untuk lebih mengetahui dan mengakui akan Kekuasaan,
Kebijaksanaan, Ilmu, Seni dan sifat-sifat Allah yang lain.
Allah
mengajak manusia untuk memikirkan penciptaan
dirinya
sendiri
"Dan
berkata manusia: "Betulkah apabila aku telah mati, bahwa aku
sungguh-sungguh akan dibangkitkan menjadi hidup kembali?" Dan tidakkah
manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu,
sedang ia tidak ada sama sekali?" (QS. Maryam, 19: 66-67)
Allah
mengajak manusia untuk memikirkan tentang
penciptaan
alam semesta
"Sesungguhnya
dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera
yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah
turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah
mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan
pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh
(terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang
memikirkan." (QS. Al-Baqarah, 2: 164)
Allah
mengajak manusia untuk memikirkan sifat
kehidupan
dunia yang sementara
"Sesungguhnya perumpamaan kehidupan
duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu
tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, diantaranya ada
yang dimakan manusia dan binatang ternak. hingga apabila bumi itu telah
sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya
mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya adzab
Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman-tanamannya) laksana
tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin.
Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang
yang berpikir." (QS. Yuunus, 10: 24)
"Apakah
ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang
mengalir di bawahnya sungai-sungai; dia mempunyai dalam kebun itu segala macam
buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang dia mempunyai
keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu
ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah. Demikianlah Allah
menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya." (QS.
Al-Baqarah, 2: 266)
Allah
mengajak manusia untuk memikirkan
nikmat-nikmat yang mereka miliki
"Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan
gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua
buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang.
Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi
kaum yang memikirkan. Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan,
dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang
tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian
tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada
yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir."
(QS. Ar-Ra‘d, 13: 3-4)
Allah mengajak manusia untuk berpikir bahwa
seluruh alam semesta telah diciptakan untuk manusia
"Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di
bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian
itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang
berpikir." (QS. Al-Jaatsiyah, 45: 13)
"Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun,
korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu
benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan. Dan Dia
menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang
itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian
itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami(nya),
dan Dia (menundukkan pula) apa yang Dia ciptakan untuk kamu di bumi ini dengan
berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar
terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran. Dan
Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya
daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang
kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari
(keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur. Dan Dia menancapkan
gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia
menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk, dan
(Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah
mereka mendapat petunjuk. Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan
yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)? Maka mengapa kamu tidak mengambil
pelajaran." (QS. An-Nahl, 16: 11-17)
Allah mengajak manusia untuk memikirkan tentang
dirinya sendiri
"Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri
mereka?" (QS. Ar-Ruum, 30: 8)
Allah mengajak manusia untuk berpikir tentang
akhlaq yang baik
"Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang
lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan
timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada sesorang melainkan
sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku
adil, kendatipun ia adalah kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah. Yang
demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat." (QS.
Al-An‘aam, 6: 152)
"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat
kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji,
kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat
mengambil pelajaran." (QS. An-Nahl, 16: 90)
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang
bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang
demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat." (QS. An-Nuur,
24: 27)
Allah mengajak manusia ntuk berpikir tentang akhirat,
hari kiamat dan hari penghisaban.
"Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan
(dimukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau
kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh; dan Allah memperingatkan
kamu terhadap siksa-Nya. Dan Allah sangat Penyayang kepada
hamba-hamba-Nya." (QS. Aali ‘Imraan, 3:
30)
"Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya'qub yang
mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi.
Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada
mereka) akhlaq yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri
akhirat." (QS. Shaad, 38: 45-46)
"Maka tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan hari kiamat (yaitu)
kedatangannya kepada mereka dengan tiba-tiba, karena sesungguhnya telah datang
tanda-tandanya. Maka apakah faedahnya bagi mereka kesadaran mereka itu apabila
Kiamat sudah datang?" (QS. Muhammad, 47: 18)
Allah mengajak manusia untuk memikirkan makhluk
hidup yang Dia ciptakan
"Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di
bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin
manusia", kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan
tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu ke
luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat
yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar
terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan." (QS.
An-Nahl, 16: 68-69)
Allah
mengajak manusia untuk memikirkan adzab
yang
dapat secara tiba-tiba menimpanya
"Katakanlah:
"Terangkanlah kepadaku jika datang siksaan Allah kepadamu, atau datang
kepadamu hari kiamat, apakah kamu menyeru (tuhan) selain Allah; jika kamu
orang-orang yang benar!" (QS. Al-An‘aam, 6: 40)
"Katakanlah:
"Terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan
serta menutup hatimu, siapakah tuhan selain Allah yang kuasa mengembalikannya
kepadamu?" Perhatikanlah bagaimana Kami berkali-kali memperlihatkan
tanda-tanda kebesaran (Kami), kemudian mereka tetap berpaling (juga). (QS.
Al-An‘aam, 6: 46)
Katakanlah:
"Terangkanlah kepadaku jika datang siksaan Allah kepadamu dengan
sekonyong-konyong, atau terang-terangan, maka adakah yang dibinasakan (Allah)
selain dari orang yang dzalim?" (QS. Al-An‘aam, 6: 47)
"Dan
tidaklah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali
atau dua kali setiap tahun, dan mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula)
mengambil pelajaran?" (QS. Yuunus, 10: 50)
"Dan
tidaklah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali
atau dua kali setiap tahun, dan mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula)
mengambil pelajaran?" (QS. At-Taubah, 9: 126)
"Dan
sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Al-Kitab (Taurat) sesudah Kami
binasakan generasi-generasi yang terdahulu, untuk menjadi pelita bagi manusia
dan petunjuk dan rahmat, agar mereka ingat." (QS. Al-Qashas, 28: 43)
"Dan sesungguhnya telah Kami binasakan orang yang serupa dengan kamu.
Maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?" (QS. Al-Qamar, 54: 51)
"Dan sesungguhnya Kami telah menghukum (Fir'aun dan) kaumnya dengan
(mendatangkan) musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya
mereka mengambil pelajaran. (QS. Al-A‘raaf, 7: 130)
Allah
mengajak manusia untuk memikirkan tentang
Al-Qur'an
"Maka
apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur'an? Kalau kiranya Al Qur'an itu bukan
dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di
dalamnya." (QS. An-Nisaa’, 4: 82)
"Maka apakah mereka tidak memperhatikan perkataan (Kami), atau apakah
telah datang kepada mereka apa yang tidak pernah datang kepada nenek moyang
mereka dahulu?" (QS. Al-Mu’minuun, 23: 68)
"Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan
berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran
orang-orang yang mempunyai pikiran." (QS. Shaad, 38: 29)
"Sesungguhnya Kami mudahkan Al Qur'an itu dengan bahasamu supaya mereka
mendapat pelajaran." (QS. Ad-Dukhaan, 44: 58)
"Sekali-kali tidak demikian halnya. Sesungguhnya Al Qur’an itu adalah
peringatan.Maka barangsiapa menghendaki, niscaya dia mengambil pelajaran
daripadanya (Al Qur’an)." (QS.
Al-Muddatstsir, 56: 54-55)
"Dan demikianlah Kami menurunkan Al Qur'an dalam bahasa Arab, dan Kami
telah menerangkan dengan berulang kali, di dalamnya sebahagian dari ancaman,
agar mereka bertakwa atau (agar) Al Qur'an itu menimbulkan pengajaran bagi
mereka.". (QS. Thaahaa, 20: 113)
Rasul-rasul Allah mengajak umatnya yang kurang
dalam hal pemahaman untuk berpikir
"Katakanlah: Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah
ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku
mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa
yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: "Apakah sama orang yang buta dengan
yang melihat?" Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)?" (QS.
Al-An‘aam, 6: 50)
"Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata: "Apakah kamu hendak
membantah tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk
kepadaku". Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan
yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki
sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan
Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil
pelajaran (daripadanya) ?" (QS. Al-An‘aam, 6: 80)
Allah mengajak manusia berpikir untuk melawan
pengaruh syaitan
"Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan maka berlindunglah
kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar
lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka
ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga
mereka melihat kesalahan-kesalahannya. Dan teman-teman mereka (orang-orang
kafir dan fasik) membantu syaitan-syaitan dalam menyesatkan dan mereka tidak
henti-hentinya (menyesatkan)." (QS. Al-A‘raaf, 7:
200-202)
Perintah Allah untuk mengarahkan orang yang diberi
penjelasan tentang ajaran agama agar berpikir secara mendalam
"Pergilah kamu beserta saudaramu dengan membawa ayat-ayat-Ku, dan
janganlah kamu berdua lalai dalam mengingat-Ku; Pergilah kamu berdua kepada
Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua
kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau
takut". (QS. Thaahaa, 20: 42-44)
Allah mengajak manusia untuk berpikir tentang
kematian dan mimpi
"Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa
(orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang
telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu
yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda
kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir." (QS. Az-Zumar, 39: 42)
Kesimpulan
Tujuan penulisan buku ini adalah "mengajak untuk berpikir".
Kebenaran dapat disampaikan kepada seseorang melalui berbagai macam cara,
dengan sangat rinci beserta semua bukti serta segala sarana yang ada. Namun jika
orang tersebut tidak memikirkan sendiri kebenaran yang ada secara ikhlas dan
jujur dengan tujuan memahami kebenaran, segala usaha tersebut tidak akan ada
artinya. Oleh karena itu, ketika rasul-rasul Allah menyampaikan risalah kepada
umat mereka, mereka menyampaikannya secara jelas kemudian menyuruh mereka untuk
memikirkannya.
Seseorang yang berpikir akan sangat
paham akan rahasia-rahasia ciptaan Allah, kebenaran tentang kehidupan di dunia,
keberadaan neraka dan surga, dan kebenaran hakiki dari segala sesuatu. Ia akan
sampai kepada pemahaman yang mendalam akan pentingnya menjadi seseorang yang
dicintai Allah, melaksanakan ajaran agama secara benar, menemukan sifat-sifat
Allah di segala sesuatu yang ia lihat, dan mulai berpikir dengan cara yang
tidak sama dengan kebanyakan manusia, namun sebagaimana yang Allah perintahkan.
Walhasil ia akan mendapatkan kenikmatan yang lebih dari keindahan-keindahan
yang ia saksikan, melebihi dari yang didapatkan oleh orang lain. Ia tidak akan
menderita tekanan batin karena terbawa oleh angan-angan kosong yang tidak ada
dasarnya dan tidak terseret oleh kerakusan dunia.
Ini hanyalah sedikit dari keutamaan-keutamaan yang diperoleh seseorang yang
berpikir di dunia. Balasan di akhirat untuk orang yang selalu mencari kebenaran
dengan berpikir adalah kecintaan, keridhaan, kasih sayang dan surga Allah.
Sebaliknya, satu hari pasti akan datang ketika mereka yang semasa masih di
dunia tidak mau memikirkan kebenaran akan berpikir, bahkan lebih dari itu,
"berpikir secara mendalam dan merenung" dan melihat
kebenaran-kebenaran tersebut dengan sangat jelas. Namun, pada hari itu berpikir
tidak akan berguna bagi mereka, bahkan membuat mereka tertimpa kesedihan. Allah
berfirman dalam Al-Qur'an:
"Maka apabila malapetaka yang sangat besar (hari kiamat) telah datang.
Pada hari (ketika) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya, dan
diperlihatkan neraka dengan jelas kepada setiap orang yang melihat." (QS.
An-Naazi‘aat, 79: 34-36)
Mengajak manusia (yang memiliki anggapan bahwa mereka dapat lolos dari
tanggung jawab mereka dengan tidak berpikir) untuk berpikir sehingga mereka
dapat merenungkan akibat yang akan menimpa mereka, dan kembali kepada agama
Allah, adalah satu bentuk ibadah bagi orang-orang mukmin. Namun, sebagaimana
Allah berfirman dalam Al-Qur'an:
"…Maka barangsiapa menghendaki, niscaya dia mengambil pelajaran
daripadanya (Al Qur’an)". (QS.
Al-Muddatstsir, 56: 55)
No comments:
Post a Comment